Minggu, 12 April 2015

Cintamu hanya di bibir saja (jilid 2)

Hai, apa kabarmu ?
Masih semangatkan untuk tetap mempersiapkan diri, untuk kehidupan yang lebih abadi?
Hmm, masih penasarankah tentang cinta?
Baiklah, mari kita berbagi.

Tentang cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata. Namun, begitu mendalam artinya dalam kehidupan masing-masing individu. Setiap individu memiliki beberapa cinta, bahkan dalam bagian cinta itu punya porsi sendiri. Kau pasti setuju, jika cinta bukan tentang sepasang kekasih saja. Ketika kau mengakui bahwa dirimu seorang muslim, sejatinya kau sedang berjuang mencintai Allah dan RasulNya. Ketika kau berusaha membahagiakan kedua orang tuamu, itu juga wujud cinta. Bahkan, saat kau berusaha mencapai apa yang menjadi impianmu, juga termasuk wujud cinta.

Masih banyak yang harus kita pelajari, pahami, mengerti tentang cinta. Ketika seseorang berani mencinta, di sisi lain dia juga harus tahu kebalikan cinta, yaitu benci. Hal yang seharusnya kita cinta adalah cinta itu sendiri, sedangkan hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri (Said Nursi). Maksudnya, kita seharusnya mencintai cinta, sebuah pikiran, perbuatan, ucapan yang mencerminkan bahwa itu cinta. Faktor apa saja yang sekiranya membuat kita bersemangat, menggebu, berani melakukan sesuatu yang memberikan dampak positif. Hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri, ketika  kita melihat hal yang kita benci, bukankah yang kita benci seharusnya bukan pelakunya?

Ketika kita malas, bukankah kita harus melawan rasa malas itu? Kita tak berhak membenci diri kita sendiri. Yang kita benci adalah malasnya. Terlebih terhadap orang lain. Kita tak berhak untuk membenci mereka, karena ketika kita membenci seseorang, itu urusan kita dengan Allah. Ketika saya menulis tentang hal ini, saya juga sedang belajar hal ini juga. Bukankah kebaikan sebaiknya ditularkan? Kebaikan adalah wujud dari cinta. Sulit memang, tapi kita masih bisa belajar untuk bisa melakukan hal tersebut.

''Cintamu hanya di bibir saja''. Jangan sampai kalimat ini kita dengar dari orang lain terhadap kita. Lebih baik kita ucapkan pada diri kita sendiri sebagai wujud introspeksi diri.

"Cintamu hanya di bibir saja". Jangan sampai kalimat ini kita tujukan pada orang lain. Kalimat ini akan sangat menyakitkan. Sebaiknya ketika kita sadar bahwa seseorang melakukan hal yang menurut kita hanya di bibir saja, kita selidiki apa yang menyebabkan seseorang melakukan hal itu.

"Cintamu hanya di bibir saja". Sebuah refleksi diri, ketika kita melakukan hal yang tidak selaras antara lisan, perbuatan dan pikiran. Buktikan cintamu. Karena ketika mencintai namun kita tak sanggup mengupayakan hal yang seharusnya.  Katakanlah, "Cintamu hanya di bibir saja" sebagai tanda cinta kita pada diri kita. Cintai dirimu, karena Allah akan memberikan cinta yang sesungguhnya, saat kita mampu merasakan cinta yang ada dalam diri kita, untuk diri kita.


Sekian dulu dari saya, semoga tulisan ini menghibur, bermanfaat dan bisa menginspirasi.
Do'akan juga untuk kebaikan saya dan keluarga.
Terimakasih.
Salam,


Mas Gagah