Hai, apa kabarmu ?
Masih semangatkan untuk tetap mempersiapkan diri, untuk kehidupan yang lebih abadi?
Hmm, masih penasarankah tentang cinta?
Baiklah, mari kita berbagi.
Tentang cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata. Namun, begitu mendalam artinya dalam kehidupan masing-masing individu. Setiap individu memiliki beberapa cinta, bahkan dalam bagian cinta itu punya porsi sendiri. Kau pasti setuju, jika cinta bukan tentang sepasang kekasih saja. Ketika kau mengakui bahwa dirimu seorang muslim, sejatinya kau sedang berjuang mencintai Allah dan RasulNya. Ketika kau berusaha membahagiakan kedua orang tuamu, itu juga wujud cinta. Bahkan, saat kau berusaha mencapai apa yang menjadi impianmu, juga termasuk wujud cinta.
Masih banyak yang harus kita pelajari, pahami, mengerti tentang cinta. Ketika seseorang berani mencinta, di sisi lain dia juga harus tahu kebalikan cinta, yaitu benci. Hal yang seharusnya kita cinta adalah cinta itu sendiri, sedangkan hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri (Said Nursi). Maksudnya, kita seharusnya mencintai cinta, sebuah pikiran, perbuatan, ucapan yang mencerminkan bahwa itu cinta. Faktor apa saja yang sekiranya membuat kita bersemangat, menggebu, berani melakukan sesuatu yang memberikan dampak positif. Hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri, ketika kita melihat hal yang kita benci, bukankah yang kita benci seharusnya bukan pelakunya?
Ketika kita malas, bukankah kita harus melawan rasa malas itu? Kita tak berhak membenci diri kita sendiri. Yang kita benci adalah malasnya. Terlebih terhadap orang lain. Kita tak berhak untuk membenci mereka, karena ketika kita membenci seseorang, itu urusan kita dengan Allah. Ketika saya menulis tentang hal ini, saya juga sedang belajar hal ini juga. Bukankah kebaikan sebaiknya ditularkan? Kebaikan adalah wujud dari cinta. Sulit memang, tapi kita masih bisa belajar untuk bisa melakukan hal tersebut.
''Cintamu hanya di bibir saja''. Jangan sampai kalimat ini kita dengar dari orang lain terhadap kita. Lebih baik kita ucapkan pada diri kita sendiri sebagai wujud introspeksi diri.
"Cintamu hanya di bibir saja". Jangan sampai kalimat ini kita tujukan pada orang lain. Kalimat ini akan sangat menyakitkan. Sebaiknya ketika kita sadar bahwa seseorang melakukan hal yang menurut kita hanya di bibir saja, kita selidiki apa yang menyebabkan seseorang melakukan hal itu.
"Cintamu hanya di bibir saja". Sebuah refleksi diri, ketika kita melakukan hal yang tidak selaras antara lisan, perbuatan dan pikiran. Buktikan cintamu. Karena ketika mencintai namun kita tak sanggup mengupayakan hal yang seharusnya. Katakanlah, "Cintamu hanya di bibir saja" sebagai tanda cinta kita pada diri kita. Cintai dirimu, karena Allah akan memberikan cinta yang sesungguhnya, saat kita mampu merasakan cinta yang ada dalam diri kita, untuk diri kita.
Sekian dulu dari saya, semoga tulisan ini menghibur, bermanfaat dan bisa menginspirasi.
Do'akan juga untuk kebaikan saya dan keluarga.
Terimakasih.
Salam,
Mas Gagah
Minggu, 12 April 2015
Kamis, 12 Februari 2015
Cintamu hanya di bibir saja
Cinta?
Apa yang anda pikirkan?
Hmm, tentang cinta yang sejak dulu sampai sekarang yang tak akan pernah habis terurai. Tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahkan, pembicaraan tentang cinta oleh kawula muda hingga orang tua adalah pembicaraan yang tak akan pernah selesai. Terkadang hari begitu cepat berlalu, saat berbagi dengan teman tentang makna cinta.
Tentang cinta yang sesungguhnya itu yang seperti apa?
Entahlah seperti apa bentuk cinta itu. Tapi setiap jiwa mampu merasakan hal itu. Sesuatu yang terkadang membuat kebiasaan menjadi abnormal. Abnormal dalam segala hal, bisa berupa hal yang positif maupun negatif.
Tak ada yang salah tentang cinta. Setiap jiwa mempunyai definisinya masing-masing. Karena setiap jiwa di ciptakan oleh Allah berbeda. Pun jalan hidup, tugas, kemampuan mendekatkan diri dengan Allah. Allah Maha Adil, setiap jiwa akan mendapatkan balasan sesuai apa yang di kerjakan. Tingkat kedekatan hamba dengan Tuhannya juga mempengaruhi sikap, cara, dalam menyikapi cinta yang di terimanya.
Rasa syukur adalah cara terbaik menerima apapun yang Allah berikan pada kita. Rasa ikhlas adalah bagaimana kita berlaku baik dengan apapun yang sudah di tetapkan olehNya. Rasa sabar adalah sikap kita saat mendapatkan perlakuan apapun atas apa yang di berikan olehNya.
Cinta?
Apa buktinya?
''CINTAMU HANYA DI BIBIR SAJA"
Adalah kalimat yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan bila kita mendengar langsung dari orang yang sangat kita cintai.
Tapi, apa jadinya jika kalimat tersebut adalah kalimat yang kita dengar langsung dari Allah dan RasulNya saat kita berdiri menghadapNya, mengharap syafaatNya, meminta belas kasihNya?
Semoga tulisan ini bisa untuk renungan.
Keep Istiqamah, salam.
Apa yang anda pikirkan?
Hmm, tentang cinta yang sejak dulu sampai sekarang yang tak akan pernah habis terurai. Tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahkan, pembicaraan tentang cinta oleh kawula muda hingga orang tua adalah pembicaraan yang tak akan pernah selesai. Terkadang hari begitu cepat berlalu, saat berbagi dengan teman tentang makna cinta.
Tentang cinta yang sesungguhnya itu yang seperti apa?
Entahlah seperti apa bentuk cinta itu. Tapi setiap jiwa mampu merasakan hal itu. Sesuatu yang terkadang membuat kebiasaan menjadi abnormal. Abnormal dalam segala hal, bisa berupa hal yang positif maupun negatif.
Tak ada yang salah tentang cinta. Setiap jiwa mempunyai definisinya masing-masing. Karena setiap jiwa di ciptakan oleh Allah berbeda. Pun jalan hidup, tugas, kemampuan mendekatkan diri dengan Allah. Allah Maha Adil, setiap jiwa akan mendapatkan balasan sesuai apa yang di kerjakan. Tingkat kedekatan hamba dengan Tuhannya juga mempengaruhi sikap, cara, dalam menyikapi cinta yang di terimanya.
Rasa syukur adalah cara terbaik menerima apapun yang Allah berikan pada kita. Rasa ikhlas adalah bagaimana kita berlaku baik dengan apapun yang sudah di tetapkan olehNya. Rasa sabar adalah sikap kita saat mendapatkan perlakuan apapun atas apa yang di berikan olehNya.
Cinta?
Apa buktinya?
''CINTAMU HANYA DI BIBIR SAJA"
Adalah kalimat yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan bila kita mendengar langsung dari orang yang sangat kita cintai.
Tapi, apa jadinya jika kalimat tersebut adalah kalimat yang kita dengar langsung dari Allah dan RasulNya saat kita berdiri menghadapNya, mengharap syafaatNya, meminta belas kasihNya?
Semoga tulisan ini bisa untuk renungan.
Keep Istiqamah, salam.
Sabtu, 07 Februari 2015
Islam itu apa?
Sebuah kebanggaan ketika saya terlahir dari keluarga yang memeluk agama Islam. Agama yang mengajarkan segala kebaikan dari membuka mata hingga menutup mata, dari dikandung badan hingga akhir hayat. Bahkan Islam mengatur semua aspek kehidupan. Agama yang rahmatanlil'alamin. Rahmat untuk semesta alam. Yang menjanjikan kehidupan yang abadi di negeri akhirat.
Kini, ketika saya menuliskan tulisan ini, ada yang ingin saya bagikan pada pembaca. Tentang Islam yang saya ketahui. Tentang kecintaan saya pada Islam. Saya bukan seorang yang ahli dalam agama, bukan seorang anak kyai atau ulama, juga bukan seorang ustad.
Islam yang saya rasakan untuk saat ini, sangat berbeda dengan yang saya alami saat masih belia. Jelaslah terlihat betapa banyak sekali Islam untuk saat ini. Tak perlu saya sebutkan, anda sebagai pembaca pasti tahu yang saya maksudkan. Iya, golongan Islam yang kini terpecah entah menjadi beberapa golongan. Dari mereka saling mengklaim golongan mereka paling benar, golongan yang lain salah bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara semuslim. Naudzubillahimindzalik.
Entah apa yang membuat Islam menjadi seperti ini. Apakah hal ini memang sesuai sabda Nabi, "Di akhir zaman nanti, umatku akan sangat mencintai dunia dan takut mati', maaf saya mengutip hadits yang saya sendiri tidak begitu hafal, tapi yang terkadang sering saya mengingat akan hal ini. Mungkin ini, yang menurut saya sebagian umat mudah terpecah.
Dulu, ketika saya masih kecil, untuk pergi ke masjid saja saya merasa senang, karena banyak anak-anak seusia saya yang mengaji. Bahkan, masih banyak orang tua yang berjamaah di masjid. Pokoknya, masjid itu masih ramai, tidak hanya untuk shalat berjamaah, juga untuk memperdalam ilmu agama. Remaja masjid pun juga ada, sering mengadakan kegiatan masjid. Yang sering di lakukan adalah tidur di masjid. Saya termasuk anggotanya, tapi saya anggota yang paling muda usianya. Tujuan saya ikut tidur di masjid pada saat itu karena saya ingin sekali membiasakan diri bangun pagi, kemudian mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama teman-teman.
Pengalaman yang saya dapatkan itu masih teringat dengan jelas. Bahkan, dulu yang namanya adzan itu harus ada acara rebutan dengan para senior. Yah, beruntung, dulu sempat dikasih jadwal adzan. hehehe.
Untuk saat ini, tidak hanya saya saja yang merasakan hal ini. Tetapi kebanyakan orang yang saya temui yang bercerita tentang masa kecilnya pun merasakan hal yang sama. Mereka pun ingin merasakan kembali hangatnya Islam seperti dulu. Saat saya pergi merantau suasana seperti dulu masih saya rasakan. Hanya saja ada yang berbeda, di perantauan pengajian ibu-ibu di lakukan di siang hari, kalau di kampung saya di lakukan malam hari, itu pun dulu.
Okay, kita bahas lagi Islam saat ini.
Ada apa dengan Islam? Tidak ada apa-apa kok. Islam baik-baik saja. Masa sih?
Pernah sesekali ada teman yang menanyakan kepada diri saya, "Kamu Islamnya apa bro?'' adalah pertanyaan yang membuat bingung sejenak. Lho, emang Islam ada berapa? Memangnya Islam ada macamnya? Hmm, sungguh menggelikan sekali. Seharusnya Islam itu satu. Allah Tuhannya, Nabi Muhammad Rasulnya. Titik.
Ada juga teman saya yang dulu, pernah mengajak debat tentang Islam. Ah, saya tak tertarik untuk berdebat, karena ilmu saya tak seberapa. Tepatnya, tak pantas saya mengeluarkan pendapat-pendapat saya tanpa ilmu. Saya hanya berkata, "Sudahlah, kita saling menghormati cara kita beribadah pada Allah, yang penting Laa illaha illallah, muhammadurrasullah.. Kita bersaudara, cuma kita ditakdirkan tidak sama. Tujuan kita di dunia untuk beribadah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat. Pun, untuk mencapai kesana kita memiliki cara yang berbeda. Istilahnya kalau kita mau pulang kampung, saya menggunakan kereta, anda menggunakan bis, atau sebaliknya''.
Dan sampai saat ini pun, saya dan teman saya masih berteman baik, tak ada yang namanya musuhan. Hehehe.
Dilanjut besok lagi ya, keep istiqamah.
Salam.
Kini, ketika saya menuliskan tulisan ini, ada yang ingin saya bagikan pada pembaca. Tentang Islam yang saya ketahui. Tentang kecintaan saya pada Islam. Saya bukan seorang yang ahli dalam agama, bukan seorang anak kyai atau ulama, juga bukan seorang ustad.
Islam yang saya rasakan untuk saat ini, sangat berbeda dengan yang saya alami saat masih belia. Jelaslah terlihat betapa banyak sekali Islam untuk saat ini. Tak perlu saya sebutkan, anda sebagai pembaca pasti tahu yang saya maksudkan. Iya, golongan Islam yang kini terpecah entah menjadi beberapa golongan. Dari mereka saling mengklaim golongan mereka paling benar, golongan yang lain salah bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara semuslim. Naudzubillahimindzalik.
Entah apa yang membuat Islam menjadi seperti ini. Apakah hal ini memang sesuai sabda Nabi, "Di akhir zaman nanti, umatku akan sangat mencintai dunia dan takut mati', maaf saya mengutip hadits yang saya sendiri tidak begitu hafal, tapi yang terkadang sering saya mengingat akan hal ini. Mungkin ini, yang menurut saya sebagian umat mudah terpecah.
Dulu, ketika saya masih kecil, untuk pergi ke masjid saja saya merasa senang, karena banyak anak-anak seusia saya yang mengaji. Bahkan, masih banyak orang tua yang berjamaah di masjid. Pokoknya, masjid itu masih ramai, tidak hanya untuk shalat berjamaah, juga untuk memperdalam ilmu agama. Remaja masjid pun juga ada, sering mengadakan kegiatan masjid. Yang sering di lakukan adalah tidur di masjid. Saya termasuk anggotanya, tapi saya anggota yang paling muda usianya. Tujuan saya ikut tidur di masjid pada saat itu karena saya ingin sekali membiasakan diri bangun pagi, kemudian mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama teman-teman.
Pengalaman yang saya dapatkan itu masih teringat dengan jelas. Bahkan, dulu yang namanya adzan itu harus ada acara rebutan dengan para senior. Yah, beruntung, dulu sempat dikasih jadwal adzan. hehehe.
Untuk saat ini, tidak hanya saya saja yang merasakan hal ini. Tetapi kebanyakan orang yang saya temui yang bercerita tentang masa kecilnya pun merasakan hal yang sama. Mereka pun ingin merasakan kembali hangatnya Islam seperti dulu. Saat saya pergi merantau suasana seperti dulu masih saya rasakan. Hanya saja ada yang berbeda, di perantauan pengajian ibu-ibu di lakukan di siang hari, kalau di kampung saya di lakukan malam hari, itu pun dulu.
Okay, kita bahas lagi Islam saat ini.
Ada apa dengan Islam? Tidak ada apa-apa kok. Islam baik-baik saja. Masa sih?
Pernah sesekali ada teman yang menanyakan kepada diri saya, "Kamu Islamnya apa bro?'' adalah pertanyaan yang membuat bingung sejenak. Lho, emang Islam ada berapa? Memangnya Islam ada macamnya? Hmm, sungguh menggelikan sekali. Seharusnya Islam itu satu. Allah Tuhannya, Nabi Muhammad Rasulnya. Titik.
Ada juga teman saya yang dulu, pernah mengajak debat tentang Islam. Ah, saya tak tertarik untuk berdebat, karena ilmu saya tak seberapa. Tepatnya, tak pantas saya mengeluarkan pendapat-pendapat saya tanpa ilmu. Saya hanya berkata, "Sudahlah, kita saling menghormati cara kita beribadah pada Allah, yang penting Laa illaha illallah, muhammadurrasullah.. Kita bersaudara, cuma kita ditakdirkan tidak sama. Tujuan kita di dunia untuk beribadah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat. Pun, untuk mencapai kesana kita memiliki cara yang berbeda. Istilahnya kalau kita mau pulang kampung, saya menggunakan kereta, anda menggunakan bis, atau sebaliknya''.
Dan sampai saat ini pun, saya dan teman saya masih berteman baik, tak ada yang namanya musuhan. Hehehe.
Dilanjut besok lagi ya, keep istiqamah.
Salam.
Menunggu
Siapa yang tak pernah merasakan menunggu?
Apa yang kamu rasakan? Bosan?
Baiklah, ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang menunggu. Tentang masalah jodoh. Banyak sekali dari kita yang selama ini menggunakan istilah menunggu. Dan ini terjadi di pihak wanita. Entah apa yang mereka tunggu, padahal kita di anjurkan untuk menjemput jodoh. Menjemput bukan berarti harus agresif, bukan berarti harus tebar pesona ke lawan jenis. Menjemput itu mendekatkan diri, mendekatkan diri dengan Allah.
Kok bisa?
Bisa banget, mau minta ke siapa lagi kalau bukan ke Allah, yang Maha Memiliki. Mau minta yang model atau tipe yang kek gimana juga bakal dikasih. Tapi ingat, apa yang di kasihkan, tentunya sesuai dengan kemapuan kita untuk merawat, menjaga, dan tidak membuat kita lalai saat mencintai.
JODOH
Sebuah kata yang melahirkan kalimat-kalimat lain. Dimulai dari, "Kapan kamu nikah?" yang terkadang membuat sebagian besar orang yang belum mempunyai pasangan speechless. Jawaban dari mereka hanya "Secepatnya, doakan saja", sebenarnya dalam hati itu rasanya bikin mood nge-down. Entahlah mengapa orang-orang di sekitarnya asyik mengejeknya.
Balik lagi ke masalah menunggu.
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku ingin memperbaiki diriku, untuk seseorang yang siap menikahiku." Keren sih. Tapi, saat wanita menunggu seorang pria, apakah yang ditunggu tahu jika wanita itu menunggu sang pria? Menunggu itu apa sih? Berharap pria itu datang tiba-tiba? Kebanyakan dari wanita selalu berharap kaum pria mampu mengerti dan memahami mereka. Plis, pria hanya bisa menebak dan mengira-ngira. Katakanlah. Katakanlah saja.
Mungkin ada yang akan menjawab "Aku akan mencintai dalam diam dan tetap menunggu. Aku yakin dia akan datang. Jika dia tidak datang, berarti dia bukan jodohku". Okay, pernyataan ini untuk kaum mereka yang sudah dalam level tinggi yakinnya ke Allah. Hehehe.
Disambung besok lagi, keep istiqamah.
Apa yang kamu rasakan? Bosan?
Baiklah, ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang menunggu. Tentang masalah jodoh. Banyak sekali dari kita yang selama ini menggunakan istilah menunggu. Dan ini terjadi di pihak wanita. Entah apa yang mereka tunggu, padahal kita di anjurkan untuk menjemput jodoh. Menjemput bukan berarti harus agresif, bukan berarti harus tebar pesona ke lawan jenis. Menjemput itu mendekatkan diri, mendekatkan diri dengan Allah.
Kok bisa?
Bisa banget, mau minta ke siapa lagi kalau bukan ke Allah, yang Maha Memiliki. Mau minta yang model atau tipe yang kek gimana juga bakal dikasih. Tapi ingat, apa yang di kasihkan, tentunya sesuai dengan kemapuan kita untuk merawat, menjaga, dan tidak membuat kita lalai saat mencintai.
JODOH
Sebuah kata yang melahirkan kalimat-kalimat lain. Dimulai dari, "Kapan kamu nikah?" yang terkadang membuat sebagian besar orang yang belum mempunyai pasangan speechless. Jawaban dari mereka hanya "Secepatnya, doakan saja", sebenarnya dalam hati itu rasanya bikin mood nge-down. Entahlah mengapa orang-orang di sekitarnya asyik mengejeknya.
Balik lagi ke masalah menunggu.
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku ingin memperbaiki diriku, untuk seseorang yang siap menikahiku." Keren sih. Tapi, saat wanita menunggu seorang pria, apakah yang ditunggu tahu jika wanita itu menunggu sang pria? Menunggu itu apa sih? Berharap pria itu datang tiba-tiba? Kebanyakan dari wanita selalu berharap kaum pria mampu mengerti dan memahami mereka. Plis, pria hanya bisa menebak dan mengira-ngira. Katakanlah. Katakanlah saja.
Mungkin ada yang akan menjawab "Aku akan mencintai dalam diam dan tetap menunggu. Aku yakin dia akan datang. Jika dia tidak datang, berarti dia bukan jodohku". Okay, pernyataan ini untuk kaum mereka yang sudah dalam level tinggi yakinnya ke Allah. Hehehe.
Disambung besok lagi, keep istiqamah.
Langganan:
Postingan (Atom)