Jumat, 07 Juni 2013

Merindukanmu (Ayah).

Alhamdulillah..
Setiap hamba yang ada di muka bumi ini pasti pernah berfikir, kita semua milikNya dan hanya kepadaNyalah kita kembali. Aku tak pernah tahu apa rencana Allah, yang bisa ku lakukan hanyalah memberikan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin agar menjadi hambaNya yang terbaik. Aamiin. InsyaAllah.
Aku tahu, bahwa semua orang mempunyai kisahnya masing-masing, begitu juga dengan diriku. Aku pernah merasakan kesedihan yang mendalam saat Aku kehilangan Ayahku. Beliau adalah Ayah yang terbaik di dunia. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Ayah disini (dihatiku).

Meski hanya 7 tahun, Aku begitu bangga mempunyai Ayah seperti beliau. Sejak kecil Aku selalu diajaknya pergi, meski hanya memperbaiki mobil temannya yang rusak. Ayahku adalah seorang montir dan juga seorang wiraswasta. Alhamdulillah, keluaraga kami termasuk keluarga yang bisa dibilang cukup. Ayahku pernah mendapatkan penghargaan peringkat ke-1 NATIONAL TECHNICIAN CONTEST se-Jawa Barat tahun 1996, meski begitu Ayahku mempunyai sifat yang rendah hati, sehingga banyak orang yang kagum dengan beliau.

Aku yang saat itu masih kecil belum begitu memahami tentang Ayahku. yang Aku tahu Ayahku bekerja memperbaiki mobil, selalu ada disaat Aku membutuhkannya, selalu ada untuk keluarga, selalu mengajkku jalan-jalan di akhir pekan, mengajariku mengerjakan PR dari sekolah, dll. Ayahku adalah seorang figur Ayah yang terbaik yang pernah ku temui. Dia adalah suami yang baik bagi Ibuku. Aku tak pernah melihat Ayah memarahi Ibu, apalagi memukulinya. Dia adalah Ayah yang selalu membuat Ibu dan Aku tersenyum.

Saat aku mempunyai adik, keluarga kami bertambah bahagia, karena bertambahnya anggota keluaraga baru.  Tapi adikku tak bisa merasakan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan dari seorang Ayah. Ayahku meninggal saat adikku berumur 2 tahun, sedang aku berumur 7 tahun. Masih ingat dengan jelas saat itu, dimana semua keluarga besarku merasa kehilangan, apalagi Ibuku. Waktu itu aku tak begitu memahami apa itu arti kematian. Saat aku duduk terdiam melihat semua keadaan, Ibu mengajakku ke kamar, sambil menangis Ibu berkata ''nak, Bapak udah ngga ada, Bapak udah meninggal.'' lalu Ibu pun berlalu meninggalkanku dikamar. Aku yang hanya bisa terdiam, sampai akupun menangis sedih, dalam benakku ada beberapa pertanyaan yang membuat aku bingung, '' mengapa Ibu menangis sesedih itu? mengapa Ayah meninggal? apakah yang disebut meninggal itu kita tak bisa bertemu dengannya lagi? seperti tetanggaku itu, yang saat dinyatakan meninggal, aku tak pernah melihatnya lagi?

Di minggu pagi itu, banyak orang yang bertakziah ke rumah nenekku, karena pada saat itu kami tinggal di rumah nenekku. Aku hanya bisa berdiam diri, yang bisa ku lakukan adalah berdoa ''Allahumma firli wali wali dayya warhamhuma kamma robbayani shoghiro''. itu adalah doa yang diajarkan oleh kedua orang tuaku setelah selesai shalat dan sebelum tidur.



Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar