Sabtu, 18 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 3)

Menjadi pribadi yang bermanfaat, adalah harapan semua orang. Tapi tidak semua orang mengerti dan memahami, menjadi pribadi yang manfaat, tentunya untuk seluruh umat. Kebanyakan menganggap bahwa caranya adalah yang terbaik. Meninggikan ego, golongan, kesenangan semu pribadi, dan penilaian orang.

Belajar dari masalalu, lihat bagaimana leluhur kita berjuang, merebut kemerdekaan dan menyebarkan agama Islam. Bicara tentang Islam, Islam adalah agama yang lurus. Agama yang indah, yang bahkan semua orang akan damai, jika memeluknya. Mati dalam keadaan Islam itu lebih mulia, percayalah, InsyaAllah.

Tanyakan nurani, pernah terbesit dipikiran anda tentang kehidupan? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita terlahir sebagai seorang muslim? Dan, mengapa kita terlahir di negeri ini, Indonesia? hmm, tarik nafas, hembuskan perlahan. Pejamkan mata anda, lalu jawab pertanyaan tadi.

Mohon maaf, apabila ada tulisan yang membuat anda tak berkenan. Terima kasih, mau menyempatkan untuk membaca blog ini.

EKO P.G.

Rabu, 15 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 2)

Yang ada hanyalah rasa saling tak mempercayai,dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan yang paling parah adalah saat pemilihan. Entah itu pemilihan antar RT,RW,KEPALA DESA hingga PRESIDEN, suara itu bisa di beli dengan uang. Yang membuat lebih tragis lagi, yaitu beberapa golongan memilih untuk golput. Entah apa yang sedang mereka pikirkan? Apakah mereka tak mempercayai lagi tentang pemimpin sekarang? Apa menurut mereka memang tak ada yang pantas, untuk menjadi seorang pemimpin? 

Sejatinya, sebagai warga negara yang baik. Kita bisa bersikap lebih matang, dalam memfilter permasalahan yang ada. Jangan cuma ikut-ikutan orang kebanyakan. Kita punya hak untuk menyuarakan suara kita. Jangan pernah untuk memilih golput karena ego pribadi. Jangan biarkan oknum membeli suara mereka yang tak kenal calonnya. Jika kita mengaku sebagai orang yang baik, gunakan nurani kita untuk memilih. Pilih yang menurut kita itu baik, dan pantas untuk memimpin. Kita berusaha dan berdo'a, nanti biar Allah yang mengaturnya. 

Jika memang kita belum bisa menjadi warga negara yang baik, apa salahnya jika kita mematuhi aturan pemerintah. Pemerintah itu mereka yang dipilih Allah untuk mewakili kita, untuk mengurusi negeri. Nah, kita sebaiknya tidak perlu ngeyel. Buktinya saja kita belum bisa bahkan tidak sanggup membalas, apa yang diberikan negeri ini, pada diri kita. Jadilah warga negara yang tahu diri.

Jika memang kita tidak puas dengan apa yang terjadi, jangan salahkan pemimpin atau pemerintah. Salahkan diri, mengapa kita memilih golput. Sejatinya, golput itu kita tidak memilih pemimpin yang baik, tapi mempersilahkan pemimipin yang dzalim untuk dipilih. 

bersambung..

Selasa, 14 Januari 2014

Entah tentang apa.

Senja yang berwarna keemasan menghiasi langit Jakarta. Saat itu aku merasakan betapa senangnya hati, bisa menikmati sore hari. Ada kerinduan yang mendalam, saat teringat orang-orang yang dicintai. Sambil menghela nafas, aku menaruh sepatu ditempatnya. Lalu membersihkan kakiku yang seharian berjasa menopangku untuk bekerja. Aku seorang karyawan swasta, lulusan SMK. Beribu mimpi yang aku miliki, salah satunya aku ingin menjadi seorang sarjana.

Menjadi seorang karyawan swasta sekaligus mahasiswa, memang tidak mudah. Tapi setidaknya aku sudah berusaha tidak merepotkan orang tua, untuk menggapai mimpiku. Ingin menjadi salah satu anak bangsa yang berprestasi. Salah satu mimpiku menjadi orang yang berpengaruh, bagi kejayaan Islam dan kemajuan negeri ini. Memang itu tidak mudah, tapi aku punya Allah.

Aku sangat bangga terlahir sebagai seorang muslim. Aku sangat bangga terlahir di negeri ini. Negeri yang menurutku, memberikan kebebasan untuk belajar tentang Islam. Islam tentang kehidupan di dunia dan akhirat. Banyak yang diberikan oleh negeri ini, untukku dan 200 juta lebih penduduk negeri ini. Tapi, sebagian besar penduduk tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bahkan, untuk meneruskan perjuanganpun enggan. Kebanyakan dari mereka kurang bersyukur. Terlihat dari beberapa kasus pelajar, yang bahkan mereka menuntut ilmu dengan tidak sungguh-sungguh. Banyak pemimpin yang terjerat kasus korupsi. Rakyat yang seharusnya mendapatkan haknya, bahkan tak pernah mencicipi arti kemerdekaan.

Yang ada hanyalah rasa tak saling mempercayai, dari rakyat oleh rakyat oleh rakyat.  bersambung..

Minggu, 15 Desember 2013

10 resep jadi orang tua yang baik.

REPUBLIKA.CO.ID, Dr Frieda Mangunsong MEd Psi, ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI),  memberikan 10 resep bagaimana agar menjadi orangtua yang baik dan efektif dalam mendidik anak-anak balita mereka. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Kenali anak Anda
"Anak menyerap semua yang diperlukan oleh orangtuanya," tutur Frieda. Jadi, kalau orangtuanya di rumah banyak senyum anak akan mengikuti kebiasaan itu hingga murah senyum.

Jangan anggap enteng
Terapkan positive parenting, yaitu menghargai perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan menghukum sesedikit mungkin.

Libatkan dalam kegiatan keluarga
"Anak seperti halnya orang dewasa, akan merasa senang bila dia merasa berguna," tukas peraih master di bidang pendidikan Luar Biasa dari The National College of Education di Evanston, AS itu.

Memanfaatkan setiap kesempatan
Bepergian bersama anak dalam kendaraan menjadi waktu yang amat berharga. Selam perjalanan gunakan untuk mengobrol dengan anak.

Sediakan waktu khusus
Bagi ibu-ibu yang bekerja sampai harus meninggalkan rumah dalam waktu lama, mungkin agak bingung bagaimana memberikan waktunya untuk si kecil. Menurut Frieda, yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya

Tegakkan disiplin
Selain positive parenting anak juga perlu belajar ada perilaku yang benar-benar tidak bisa diterima sehingga perlu ada penegakkan disiplin. Namun, ibu juga harus konsisten menegakkan disipllin. Jangan sampai itu dilakukan berdasarkan mood ibu.

Jadi contoh bagi anak
Anak lahir tanpa tahu apa-apa bukan? Nah, mereka itu peniru ulung. Apa yagn dia lakukan adalah imitasi apa yang dilakukan orangtuanya. Bukan dari apa yang dia dengar melainkan apa yang dia amati.

Ungkapkan kasih sayang anda
Setiap orangtua tentu sayang pada anak-anaknya. Namun, jangan pelit ekspresi sayang. Jangan pula menganggap anak tahu, anda sayang pada mereka. Untuk itu ungkapan kasih sayang anda lewat kata-kata, sentuhan berupa belaian, pelukan dan ciuman, lalu tulisan dalam surat pendek yang isinya "Mama sayang kamu"

Komunikasi yang tepat
Mungkin anda menganggap hal berikut sepele. Padahal, besar pengaruhnya. Yakni, jangan meneriakkan perintah atau aturan dari ruang lailn. Itu tidak efektif. Aturan atau perintah harus sespesifik mungkin.

Senin, 07 Oktober 2013

Jakarta, 07 Oktober 2013

jika berbicara tentang kematian.. 
yang terbayang adalah rasa sakit..
mungkin melebihi rasa pegal di punggung yg selama hampir 4 thn bkrja dgn posisi badan membungkuk..
bahkan, ada yg mengatakan..
saat nyawa dicabut sampai tenggorokan..
ibarat seperti..
pohon salak yg dimasukkan ke mulut lalu ditarik keluar..
secara paksa..

dan saat terakhir itu..
saya tak tahu..
siapa yg benar2 merasa kehilangan..
bahkan mengenang perjalanan hidup saya melalui sebuah catatan kecil..
sebuah tulisan tangan..

Eko P.G.

Jumat, 07 Juni 2013

Merindukanmu (Ayah).

Alhamdulillah..
Setiap hamba yang ada di muka bumi ini pasti pernah berfikir, kita semua milikNya dan hanya kepadaNyalah kita kembali. Aku tak pernah tahu apa rencana Allah, yang bisa ku lakukan hanyalah memberikan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin agar menjadi hambaNya yang terbaik. Aamiin. InsyaAllah.
Aku tahu, bahwa semua orang mempunyai kisahnya masing-masing, begitu juga dengan diriku. Aku pernah merasakan kesedihan yang mendalam saat Aku kehilangan Ayahku. Beliau adalah Ayah yang terbaik di dunia. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Ayah disini (dihatiku).

Meski hanya 7 tahun, Aku begitu bangga mempunyai Ayah seperti beliau. Sejak kecil Aku selalu diajaknya pergi, meski hanya memperbaiki mobil temannya yang rusak. Ayahku adalah seorang montir dan juga seorang wiraswasta. Alhamdulillah, keluaraga kami termasuk keluarga yang bisa dibilang cukup. Ayahku pernah mendapatkan penghargaan peringkat ke-1 NATIONAL TECHNICIAN CONTEST se-Jawa Barat tahun 1996, meski begitu Ayahku mempunyai sifat yang rendah hati, sehingga banyak orang yang kagum dengan beliau.

Aku yang saat itu masih kecil belum begitu memahami tentang Ayahku. yang Aku tahu Ayahku bekerja memperbaiki mobil, selalu ada disaat Aku membutuhkannya, selalu ada untuk keluarga, selalu mengajkku jalan-jalan di akhir pekan, mengajariku mengerjakan PR dari sekolah, dll. Ayahku adalah seorang figur Ayah yang terbaik yang pernah ku temui. Dia adalah suami yang baik bagi Ibuku. Aku tak pernah melihat Ayah memarahi Ibu, apalagi memukulinya. Dia adalah Ayah yang selalu membuat Ibu dan Aku tersenyum.

Saat aku mempunyai adik, keluarga kami bertambah bahagia, karena bertambahnya anggota keluaraga baru.  Tapi adikku tak bisa merasakan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan dari seorang Ayah. Ayahku meninggal saat adikku berumur 2 tahun, sedang aku berumur 7 tahun. Masih ingat dengan jelas saat itu, dimana semua keluarga besarku merasa kehilangan, apalagi Ibuku. Waktu itu aku tak begitu memahami apa itu arti kematian. Saat aku duduk terdiam melihat semua keadaan, Ibu mengajakku ke kamar, sambil menangis Ibu berkata ''nak, Bapak udah ngga ada, Bapak udah meninggal.'' lalu Ibu pun berlalu meninggalkanku dikamar. Aku yang hanya bisa terdiam, sampai akupun menangis sedih, dalam benakku ada beberapa pertanyaan yang membuat aku bingung, '' mengapa Ibu menangis sesedih itu? mengapa Ayah meninggal? apakah yang disebut meninggal itu kita tak bisa bertemu dengannya lagi? seperti tetanggaku itu, yang saat dinyatakan meninggal, aku tak pernah melihatnya lagi?

Di minggu pagi itu, banyak orang yang bertakziah ke rumah nenekku, karena pada saat itu kami tinggal di rumah nenekku. Aku hanya bisa berdiam diri, yang bisa ku lakukan adalah berdoa ''Allahumma firli wali wali dayya warhamhuma kamma robbayani shoghiro''. itu adalah doa yang diajarkan oleh kedua orang tuaku setelah selesai shalat dan sebelum tidur.



Bersambung..

Tuhan, Aku Lelah, Aku Ingin Pulang.

Tuhan, betapa banyak nikmatMu yang Kau berikan. betapa bodohnya aku yang selalu mengeluh pemberianmu. Kau menitipkan kepadaku orang-orang yang menyayangiku,, tapi betapa bodohnya aku yang terkadang mengabaikan mereka. Aku selalu membandingkan kelemahanku dengan kelebihan orang lain. Aku selalu berburuk sangka kepada hamba-hambaMu. Aku selalu iri dengan mereka yang telah Kau titipkan sesuatu yang memang layak untuk mereka.

Tuhan, aku memang bodoh. ku akui aku selalu sombong didepan hamba-hambaMu, didepan mereka yang bahkan lebih berilmu daripada aku. aku memang miskin, tetapi aku selalu ingin terlihat kaya didepan mereka.

Tuhan, Aku Lelah, Aku Ingin Pulang. tapi apa yang aku punya? apa yang akan ku bawa nanti untuk bekal di akhirat? apa yang akan aku jawab saat Kau menanyakan tentang hidupku di dunia ini? apa sesuatu yang ku tinggalkan pada ahli warisku sepeninggalku?

Tuhan, jadikanlah dunia ditanganku, dan jadikanlah akhirat dihatiku. ( do'a abu bakar)
Tuhan, aku memohon kebaikan dimanapun aku berpijak, dan aku meminta perlindunganmu dari segala keburukan dimanapun aku berpijak.