Sabtu, 07 Februari 2015

Islam itu apa?

Sebuah kebanggaan ketika saya terlahir dari keluarga yang memeluk agama Islam. Agama yang mengajarkan segala kebaikan dari membuka mata hingga menutup mata, dari dikandung badan hingga akhir hayat. Bahkan Islam mengatur semua aspek kehidupan. Agama yang rahmatanlil'alamin. Rahmat untuk semesta alam. Yang menjanjikan kehidupan yang abadi di negeri akhirat.

Kini, ketika saya menuliskan tulisan ini, ada yang ingin saya bagikan pada pembaca. Tentang Islam yang saya ketahui. Tentang kecintaan saya pada Islam. Saya bukan seorang yang ahli dalam agama, bukan seorang anak kyai atau ulama, juga bukan seorang ustad.

Islam yang saya rasakan untuk saat ini, sangat berbeda dengan yang saya alami saat masih belia. Jelaslah terlihat betapa banyak sekali Islam untuk saat ini. Tak perlu saya sebutkan, anda sebagai pembaca pasti tahu yang saya maksudkan. Iya, golongan Islam yang kini terpecah entah menjadi beberapa golongan. Dari mereka saling mengklaim golongan mereka paling benar, golongan yang lain salah bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara semuslim. Naudzubillahimindzalik.

Entah apa yang membuat Islam menjadi seperti ini. Apakah hal ini memang sesuai sabda Nabi, "Di akhir zaman nanti, umatku akan sangat mencintai dunia dan takut mati', maaf saya mengutip hadits yang saya sendiri tidak begitu hafal, tapi yang terkadang sering saya mengingat akan hal ini. Mungkin ini, yang menurut saya sebagian umat mudah terpecah.

Dulu, ketika saya masih kecil, untuk pergi ke masjid saja saya merasa senang, karena banyak anak-anak seusia saya yang mengaji. Bahkan, masih banyak orang tua yang berjamaah di masjid. Pokoknya, masjid itu masih ramai, tidak hanya untuk shalat berjamaah, juga untuk memperdalam ilmu agama. Remaja masjid pun juga ada, sering mengadakan kegiatan masjid. Yang sering di lakukan adalah tidur di masjid. Saya termasuk anggotanya, tapi saya anggota yang paling muda usianya. Tujuan saya ikut tidur di masjid pada saat itu karena saya ingin sekali membiasakan diri bangun pagi, kemudian mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama teman-teman.

Pengalaman yang saya dapatkan itu masih teringat dengan jelas. Bahkan, dulu yang namanya adzan itu harus ada acara rebutan dengan para senior. Yah, beruntung, dulu sempat dikasih jadwal adzan. hehehe.

Untuk saat ini, tidak hanya saya saja yang merasakan hal ini. Tetapi kebanyakan orang yang saya temui yang bercerita tentang masa kecilnya pun merasakan hal yang sama. Mereka pun ingin merasakan kembali hangatnya Islam seperti dulu. Saat saya pergi merantau suasana seperti dulu masih saya rasakan. Hanya saja ada yang berbeda, di perantauan pengajian ibu-ibu di lakukan di siang hari, kalau di kampung saya di lakukan malam hari, itu pun dulu.

Okay, kita bahas lagi Islam saat ini.
Ada apa dengan Islam? Tidak ada apa-apa kok. Islam baik-baik saja. Masa sih?
Pernah sesekali ada teman yang menanyakan kepada diri saya, "Kamu Islamnya apa bro?'' adalah pertanyaan yang membuat bingung sejenak. Lho, emang Islam ada berapa? Memangnya Islam ada macamnya? Hmm, sungguh menggelikan sekali. Seharusnya Islam itu satu. Allah Tuhannya, Nabi Muhammad Rasulnya. Titik.

Ada juga teman saya yang dulu, pernah mengajak debat tentang Islam. Ah, saya tak tertarik untuk berdebat, karena ilmu saya tak seberapa. Tepatnya, tak pantas saya mengeluarkan pendapat-pendapat saya tanpa ilmu. Saya hanya berkata, "Sudahlah, kita saling menghormati cara kita beribadah pada Allah, yang penting Laa illaha illallah, muhammadurrasullah.. Kita bersaudara, cuma kita ditakdirkan tidak sama. Tujuan kita di dunia untuk beribadah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat. Pun, untuk mencapai kesana kita memiliki cara yang berbeda. Istilahnya kalau kita mau pulang kampung, saya menggunakan kereta, anda menggunakan bis, atau sebaliknya''. 
Dan sampai saat ini pun, saya dan teman saya masih berteman baik, tak ada yang namanya musuhan. Hehehe.


Dilanjut besok lagi ya, keep istiqamah.
Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar