Kamis, 12 Februari 2015

Cintamu hanya di bibir saja

Cinta?
Apa yang anda pikirkan?
Hmm, tentang cinta yang sejak dulu sampai sekarang yang tak akan pernah habis terurai. Tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahkan, pembicaraan tentang cinta oleh kawula muda hingga orang tua adalah pembicaraan yang tak akan pernah selesai. Terkadang hari begitu cepat berlalu, saat berbagi dengan teman tentang makna cinta.

Tentang cinta yang sesungguhnya itu yang seperti apa?
Entahlah seperti apa bentuk cinta itu. Tapi setiap jiwa mampu merasakan hal itu. Sesuatu yang terkadang membuat kebiasaan menjadi abnormal. Abnormal dalam segala hal, bisa berupa hal yang positif maupun negatif.

Tak ada yang salah tentang cinta. Setiap jiwa mempunyai definisinya masing-masing. Karena setiap jiwa di ciptakan oleh Allah berbeda. Pun jalan hidup, tugas, kemampuan mendekatkan diri dengan Allah. Allah Maha Adil, setiap jiwa akan mendapatkan balasan sesuai apa yang di kerjakan. Tingkat kedekatan hamba dengan Tuhannya juga mempengaruhi sikap, cara, dalam menyikapi cinta yang di terimanya.

Rasa syukur adalah cara terbaik menerima apapun yang Allah berikan pada kita. Rasa ikhlas adalah bagaimana kita berlaku baik dengan apapun yang sudah di tetapkan olehNya. Rasa sabar adalah sikap kita saat mendapatkan perlakuan apapun atas apa yang di berikan olehNya.

Cinta?
Apa buktinya?
''CINTAMU HANYA DI BIBIR SAJA"  
Adalah kalimat yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan bila kita mendengar langsung dari orang yang sangat kita cintai.
Tapi, apa jadinya jika kalimat tersebut adalah kalimat yang kita dengar langsung dari Allah dan RasulNya saat kita berdiri menghadapNya, mengharap syafaatNya, meminta belas kasihNya?

Semoga tulisan ini bisa untuk renungan.
Keep Istiqamah, salam.

Sabtu, 07 Februari 2015

Islam itu apa?

Sebuah kebanggaan ketika saya terlahir dari keluarga yang memeluk agama Islam. Agama yang mengajarkan segala kebaikan dari membuka mata hingga menutup mata, dari dikandung badan hingga akhir hayat. Bahkan Islam mengatur semua aspek kehidupan. Agama yang rahmatanlil'alamin. Rahmat untuk semesta alam. Yang menjanjikan kehidupan yang abadi di negeri akhirat.

Kini, ketika saya menuliskan tulisan ini, ada yang ingin saya bagikan pada pembaca. Tentang Islam yang saya ketahui. Tentang kecintaan saya pada Islam. Saya bukan seorang yang ahli dalam agama, bukan seorang anak kyai atau ulama, juga bukan seorang ustad.

Islam yang saya rasakan untuk saat ini, sangat berbeda dengan yang saya alami saat masih belia. Jelaslah terlihat betapa banyak sekali Islam untuk saat ini. Tak perlu saya sebutkan, anda sebagai pembaca pasti tahu yang saya maksudkan. Iya, golongan Islam yang kini terpecah entah menjadi beberapa golongan. Dari mereka saling mengklaim golongan mereka paling benar, golongan yang lain salah bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara semuslim. Naudzubillahimindzalik.

Entah apa yang membuat Islam menjadi seperti ini. Apakah hal ini memang sesuai sabda Nabi, "Di akhir zaman nanti, umatku akan sangat mencintai dunia dan takut mati', maaf saya mengutip hadits yang saya sendiri tidak begitu hafal, tapi yang terkadang sering saya mengingat akan hal ini. Mungkin ini, yang menurut saya sebagian umat mudah terpecah.

Dulu, ketika saya masih kecil, untuk pergi ke masjid saja saya merasa senang, karena banyak anak-anak seusia saya yang mengaji. Bahkan, masih banyak orang tua yang berjamaah di masjid. Pokoknya, masjid itu masih ramai, tidak hanya untuk shalat berjamaah, juga untuk memperdalam ilmu agama. Remaja masjid pun juga ada, sering mengadakan kegiatan masjid. Yang sering di lakukan adalah tidur di masjid. Saya termasuk anggotanya, tapi saya anggota yang paling muda usianya. Tujuan saya ikut tidur di masjid pada saat itu karena saya ingin sekali membiasakan diri bangun pagi, kemudian mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama teman-teman.

Pengalaman yang saya dapatkan itu masih teringat dengan jelas. Bahkan, dulu yang namanya adzan itu harus ada acara rebutan dengan para senior. Yah, beruntung, dulu sempat dikasih jadwal adzan. hehehe.

Untuk saat ini, tidak hanya saya saja yang merasakan hal ini. Tetapi kebanyakan orang yang saya temui yang bercerita tentang masa kecilnya pun merasakan hal yang sama. Mereka pun ingin merasakan kembali hangatnya Islam seperti dulu. Saat saya pergi merantau suasana seperti dulu masih saya rasakan. Hanya saja ada yang berbeda, di perantauan pengajian ibu-ibu di lakukan di siang hari, kalau di kampung saya di lakukan malam hari, itu pun dulu.

Okay, kita bahas lagi Islam saat ini.
Ada apa dengan Islam? Tidak ada apa-apa kok. Islam baik-baik saja. Masa sih?
Pernah sesekali ada teman yang menanyakan kepada diri saya, "Kamu Islamnya apa bro?'' adalah pertanyaan yang membuat bingung sejenak. Lho, emang Islam ada berapa? Memangnya Islam ada macamnya? Hmm, sungguh menggelikan sekali. Seharusnya Islam itu satu. Allah Tuhannya, Nabi Muhammad Rasulnya. Titik.

Ada juga teman saya yang dulu, pernah mengajak debat tentang Islam. Ah, saya tak tertarik untuk berdebat, karena ilmu saya tak seberapa. Tepatnya, tak pantas saya mengeluarkan pendapat-pendapat saya tanpa ilmu. Saya hanya berkata, "Sudahlah, kita saling menghormati cara kita beribadah pada Allah, yang penting Laa illaha illallah, muhammadurrasullah.. Kita bersaudara, cuma kita ditakdirkan tidak sama. Tujuan kita di dunia untuk beribadah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat. Pun, untuk mencapai kesana kita memiliki cara yang berbeda. Istilahnya kalau kita mau pulang kampung, saya menggunakan kereta, anda menggunakan bis, atau sebaliknya''. 
Dan sampai saat ini pun, saya dan teman saya masih berteman baik, tak ada yang namanya musuhan. Hehehe.


Dilanjut besok lagi ya, keep istiqamah.
Salam.

Menunggu

Siapa yang tak pernah merasakan menunggu?
Apa yang kamu rasakan? Bosan?

Baiklah, ada  beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang menunggu. Tentang masalah jodoh. Banyak sekali dari kita yang selama ini menggunakan istilah menunggu. Dan ini terjadi di pihak wanita. Entah apa yang mereka tunggu, padahal kita di anjurkan untuk menjemput jodoh. Menjemput bukan berarti harus agresif, bukan berarti harus tebar pesona ke lawan jenis. Menjemput itu mendekatkan diri, mendekatkan diri dengan Allah.

Kok bisa?
Bisa banget, mau minta ke siapa lagi kalau bukan ke Allah, yang Maha Memiliki. Mau minta yang model atau tipe yang kek gimana juga bakal dikasih. Tapi ingat, apa yang di kasihkan, tentunya sesuai dengan kemapuan kita untuk merawat, menjaga, dan tidak membuat kita lalai saat mencintai.

JODOH
Sebuah kata yang melahirkan kalimat-kalimat lain. Dimulai dari, "Kapan kamu nikah?" yang terkadang membuat sebagian besar orang yang belum mempunyai pasangan speechless. Jawaban dari mereka hanya "Secepatnya, doakan saja", sebenarnya dalam hati itu rasanya bikin mood nge-down. Entahlah mengapa orang-orang di sekitarnya asyik mengejeknya.

Balik lagi ke masalah menunggu.
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku ingin memperbaiki diriku, untuk seseorang yang siap menikahiku." Keren sih. Tapi, saat wanita menunggu seorang pria, apakah yang ditunggu tahu jika wanita itu menunggu sang pria? Menunggu itu apa sih? Berharap pria itu datang tiba-tiba? Kebanyakan dari wanita selalu berharap kaum pria mampu mengerti dan memahami mereka. Plis, pria hanya bisa menebak dan mengira-ngira. Katakanlah. Katakanlah saja.

Mungkin ada yang akan menjawab "Aku akan mencintai dalam diam dan tetap menunggu. Aku yakin dia akan datang. Jika dia tidak datang, berarti dia bukan jodohku". Okay, pernyataan ini untuk kaum mereka yang sudah dalam level tinggi yakinnya ke Allah. Hehehe.

Disambung besok lagi, keep istiqamah.

Selasa, 25 Februari 2014

Aku Cinta Indonesia

Saat sebagian orang dinegeri ini menggemari bangsa lain,
Sebagian lainnya begitu sangat peduli dengan negeri ini,
Mengagumi bangsa lain itu hak masing-masing individu,
Tapi mencintai negeri sendiri adalah kewajiban setiap warga negara.

Saat krisi kepercayaan pada pemuka negeri ini kian luntur,
Disitu pula bibit baru datangdengan niat yang tulus,
Menganggap semua hanya titipan.

Bukan untuk memperkaya diri sendiri,
Tetapi untuk kesejahteraan semua rakyat.

Mereka generasi hebat pengukir sejarah.
Bukan penghargaan yang menjadi tujuan utama.
Bukan pula pujian ataupun pengikut.

Tapi sesuai panggilan jiwa.
Karena menjadi seorang pemimpin,
Adalah pelayan untuk yang ia pimpin.
Untukmu, Indonesiaku.

Sabtu, 18 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 3)

Menjadi pribadi yang bermanfaat, adalah harapan semua orang. Tapi tidak semua orang mengerti dan memahami, menjadi pribadi yang manfaat, tentunya untuk seluruh umat. Kebanyakan menganggap bahwa caranya adalah yang terbaik. Meninggikan ego, golongan, kesenangan semu pribadi, dan penilaian orang.

Belajar dari masalalu, lihat bagaimana leluhur kita berjuang, merebut kemerdekaan dan menyebarkan agama Islam. Bicara tentang Islam, Islam adalah agama yang lurus. Agama yang indah, yang bahkan semua orang akan damai, jika memeluknya. Mati dalam keadaan Islam itu lebih mulia, percayalah, InsyaAllah.

Tanyakan nurani, pernah terbesit dipikiran anda tentang kehidupan? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita terlahir sebagai seorang muslim? Dan, mengapa kita terlahir di negeri ini, Indonesia? hmm, tarik nafas, hembuskan perlahan. Pejamkan mata anda, lalu jawab pertanyaan tadi.

Mohon maaf, apabila ada tulisan yang membuat anda tak berkenan. Terima kasih, mau menyempatkan untuk membaca blog ini.

EKO P.G.

Rabu, 15 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 2)

Yang ada hanyalah rasa saling tak mempercayai,dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan yang paling parah adalah saat pemilihan. Entah itu pemilihan antar RT,RW,KEPALA DESA hingga PRESIDEN, suara itu bisa di beli dengan uang. Yang membuat lebih tragis lagi, yaitu beberapa golongan memilih untuk golput. Entah apa yang sedang mereka pikirkan? Apakah mereka tak mempercayai lagi tentang pemimpin sekarang? Apa menurut mereka memang tak ada yang pantas, untuk menjadi seorang pemimpin? 

Sejatinya, sebagai warga negara yang baik. Kita bisa bersikap lebih matang, dalam memfilter permasalahan yang ada. Jangan cuma ikut-ikutan orang kebanyakan. Kita punya hak untuk menyuarakan suara kita. Jangan pernah untuk memilih golput karena ego pribadi. Jangan biarkan oknum membeli suara mereka yang tak kenal calonnya. Jika kita mengaku sebagai orang yang baik, gunakan nurani kita untuk memilih. Pilih yang menurut kita itu baik, dan pantas untuk memimpin. Kita berusaha dan berdo'a, nanti biar Allah yang mengaturnya. 

Jika memang kita belum bisa menjadi warga negara yang baik, apa salahnya jika kita mematuhi aturan pemerintah. Pemerintah itu mereka yang dipilih Allah untuk mewakili kita, untuk mengurusi negeri. Nah, kita sebaiknya tidak perlu ngeyel. Buktinya saja kita belum bisa bahkan tidak sanggup membalas, apa yang diberikan negeri ini, pada diri kita. Jadilah warga negara yang tahu diri.

Jika memang kita tidak puas dengan apa yang terjadi, jangan salahkan pemimpin atau pemerintah. Salahkan diri, mengapa kita memilih golput. Sejatinya, golput itu kita tidak memilih pemimpin yang baik, tapi mempersilahkan pemimipin yang dzalim untuk dipilih. 

bersambung..

Selasa, 14 Januari 2014

Entah tentang apa.

Senja yang berwarna keemasan menghiasi langit Jakarta. Saat itu aku merasakan betapa senangnya hati, bisa menikmati sore hari. Ada kerinduan yang mendalam, saat teringat orang-orang yang dicintai. Sambil menghela nafas, aku menaruh sepatu ditempatnya. Lalu membersihkan kakiku yang seharian berjasa menopangku untuk bekerja. Aku seorang karyawan swasta, lulusan SMK. Beribu mimpi yang aku miliki, salah satunya aku ingin menjadi seorang sarjana.

Menjadi seorang karyawan swasta sekaligus mahasiswa, memang tidak mudah. Tapi setidaknya aku sudah berusaha tidak merepotkan orang tua, untuk menggapai mimpiku. Ingin menjadi salah satu anak bangsa yang berprestasi. Salah satu mimpiku menjadi orang yang berpengaruh, bagi kejayaan Islam dan kemajuan negeri ini. Memang itu tidak mudah, tapi aku punya Allah.

Aku sangat bangga terlahir sebagai seorang muslim. Aku sangat bangga terlahir di negeri ini. Negeri yang menurutku, memberikan kebebasan untuk belajar tentang Islam. Islam tentang kehidupan di dunia dan akhirat. Banyak yang diberikan oleh negeri ini, untukku dan 200 juta lebih penduduk negeri ini. Tapi, sebagian besar penduduk tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bahkan, untuk meneruskan perjuanganpun enggan. Kebanyakan dari mereka kurang bersyukur. Terlihat dari beberapa kasus pelajar, yang bahkan mereka menuntut ilmu dengan tidak sungguh-sungguh. Banyak pemimpin yang terjerat kasus korupsi. Rakyat yang seharusnya mendapatkan haknya, bahkan tak pernah mencicipi arti kemerdekaan.

Yang ada hanyalah rasa tak saling mempercayai, dari rakyat oleh rakyat oleh rakyat.  bersambung..