Minggu, 12 April 2015

Cintamu hanya di bibir saja (jilid 2)

Hai, apa kabarmu ?
Masih semangatkan untuk tetap mempersiapkan diri, untuk kehidupan yang lebih abadi?
Hmm, masih penasarankah tentang cinta?
Baiklah, mari kita berbagi.

Tentang cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata. Namun, begitu mendalam artinya dalam kehidupan masing-masing individu. Setiap individu memiliki beberapa cinta, bahkan dalam bagian cinta itu punya porsi sendiri. Kau pasti setuju, jika cinta bukan tentang sepasang kekasih saja. Ketika kau mengakui bahwa dirimu seorang muslim, sejatinya kau sedang berjuang mencintai Allah dan RasulNya. Ketika kau berusaha membahagiakan kedua orang tuamu, itu juga wujud cinta. Bahkan, saat kau berusaha mencapai apa yang menjadi impianmu, juga termasuk wujud cinta.

Masih banyak yang harus kita pelajari, pahami, mengerti tentang cinta. Ketika seseorang berani mencinta, di sisi lain dia juga harus tahu kebalikan cinta, yaitu benci. Hal yang seharusnya kita cinta adalah cinta itu sendiri, sedangkan hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri (Said Nursi). Maksudnya, kita seharusnya mencintai cinta, sebuah pikiran, perbuatan, ucapan yang mencerminkan bahwa itu cinta. Faktor apa saja yang sekiranya membuat kita bersemangat, menggebu, berani melakukan sesuatu yang memberikan dampak positif. Hal yang seharusnya kita benci adalah kebencian itu sendiri, ketika  kita melihat hal yang kita benci, bukankah yang kita benci seharusnya bukan pelakunya?

Ketika kita malas, bukankah kita harus melawan rasa malas itu? Kita tak berhak membenci diri kita sendiri. Yang kita benci adalah malasnya. Terlebih terhadap orang lain. Kita tak berhak untuk membenci mereka, karena ketika kita membenci seseorang, itu urusan kita dengan Allah. Ketika saya menulis tentang hal ini, saya juga sedang belajar hal ini juga. Bukankah kebaikan sebaiknya ditularkan? Kebaikan adalah wujud dari cinta. Sulit memang, tapi kita masih bisa belajar untuk bisa melakukan hal tersebut.

''Cintamu hanya di bibir saja''. Jangan sampai kalimat ini kita dengar dari orang lain terhadap kita. Lebih baik kita ucapkan pada diri kita sendiri sebagai wujud introspeksi diri.

"Cintamu hanya di bibir saja". Jangan sampai kalimat ini kita tujukan pada orang lain. Kalimat ini akan sangat menyakitkan. Sebaiknya ketika kita sadar bahwa seseorang melakukan hal yang menurut kita hanya di bibir saja, kita selidiki apa yang menyebabkan seseorang melakukan hal itu.

"Cintamu hanya di bibir saja". Sebuah refleksi diri, ketika kita melakukan hal yang tidak selaras antara lisan, perbuatan dan pikiran. Buktikan cintamu. Karena ketika mencintai namun kita tak sanggup mengupayakan hal yang seharusnya.  Katakanlah, "Cintamu hanya di bibir saja" sebagai tanda cinta kita pada diri kita. Cintai dirimu, karena Allah akan memberikan cinta yang sesungguhnya, saat kita mampu merasakan cinta yang ada dalam diri kita, untuk diri kita.


Sekian dulu dari saya, semoga tulisan ini menghibur, bermanfaat dan bisa menginspirasi.
Do'akan juga untuk kebaikan saya dan keluarga.
Terimakasih.
Salam,


Mas Gagah



Kamis, 12 Februari 2015

Cintamu hanya di bibir saja

Cinta?
Apa yang anda pikirkan?
Hmm, tentang cinta yang sejak dulu sampai sekarang yang tak akan pernah habis terurai. Tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahkan, pembicaraan tentang cinta oleh kawula muda hingga orang tua adalah pembicaraan yang tak akan pernah selesai. Terkadang hari begitu cepat berlalu, saat berbagi dengan teman tentang makna cinta.

Tentang cinta yang sesungguhnya itu yang seperti apa?
Entahlah seperti apa bentuk cinta itu. Tapi setiap jiwa mampu merasakan hal itu. Sesuatu yang terkadang membuat kebiasaan menjadi abnormal. Abnormal dalam segala hal, bisa berupa hal yang positif maupun negatif.

Tak ada yang salah tentang cinta. Setiap jiwa mempunyai definisinya masing-masing. Karena setiap jiwa di ciptakan oleh Allah berbeda. Pun jalan hidup, tugas, kemampuan mendekatkan diri dengan Allah. Allah Maha Adil, setiap jiwa akan mendapatkan balasan sesuai apa yang di kerjakan. Tingkat kedekatan hamba dengan Tuhannya juga mempengaruhi sikap, cara, dalam menyikapi cinta yang di terimanya.

Rasa syukur adalah cara terbaik menerima apapun yang Allah berikan pada kita. Rasa ikhlas adalah bagaimana kita berlaku baik dengan apapun yang sudah di tetapkan olehNya. Rasa sabar adalah sikap kita saat mendapatkan perlakuan apapun atas apa yang di berikan olehNya.

Cinta?
Apa buktinya?
''CINTAMU HANYA DI BIBIR SAJA"  
Adalah kalimat yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan bila kita mendengar langsung dari orang yang sangat kita cintai.
Tapi, apa jadinya jika kalimat tersebut adalah kalimat yang kita dengar langsung dari Allah dan RasulNya saat kita berdiri menghadapNya, mengharap syafaatNya, meminta belas kasihNya?

Semoga tulisan ini bisa untuk renungan.
Keep Istiqamah, salam.

Sabtu, 07 Februari 2015

Islam itu apa?

Sebuah kebanggaan ketika saya terlahir dari keluarga yang memeluk agama Islam. Agama yang mengajarkan segala kebaikan dari membuka mata hingga menutup mata, dari dikandung badan hingga akhir hayat. Bahkan Islam mengatur semua aspek kehidupan. Agama yang rahmatanlil'alamin. Rahmat untuk semesta alam. Yang menjanjikan kehidupan yang abadi di negeri akhirat.

Kini, ketika saya menuliskan tulisan ini, ada yang ingin saya bagikan pada pembaca. Tentang Islam yang saya ketahui. Tentang kecintaan saya pada Islam. Saya bukan seorang yang ahli dalam agama, bukan seorang anak kyai atau ulama, juga bukan seorang ustad.

Islam yang saya rasakan untuk saat ini, sangat berbeda dengan yang saya alami saat masih belia. Jelaslah terlihat betapa banyak sekali Islam untuk saat ini. Tak perlu saya sebutkan, anda sebagai pembaca pasti tahu yang saya maksudkan. Iya, golongan Islam yang kini terpecah entah menjadi beberapa golongan. Dari mereka saling mengklaim golongan mereka paling benar, golongan yang lain salah bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara semuslim. Naudzubillahimindzalik.

Entah apa yang membuat Islam menjadi seperti ini. Apakah hal ini memang sesuai sabda Nabi, "Di akhir zaman nanti, umatku akan sangat mencintai dunia dan takut mati', maaf saya mengutip hadits yang saya sendiri tidak begitu hafal, tapi yang terkadang sering saya mengingat akan hal ini. Mungkin ini, yang menurut saya sebagian umat mudah terpecah.

Dulu, ketika saya masih kecil, untuk pergi ke masjid saja saya merasa senang, karena banyak anak-anak seusia saya yang mengaji. Bahkan, masih banyak orang tua yang berjamaah di masjid. Pokoknya, masjid itu masih ramai, tidak hanya untuk shalat berjamaah, juga untuk memperdalam ilmu agama. Remaja masjid pun juga ada, sering mengadakan kegiatan masjid. Yang sering di lakukan adalah tidur di masjid. Saya termasuk anggotanya, tapi saya anggota yang paling muda usianya. Tujuan saya ikut tidur di masjid pada saat itu karena saya ingin sekali membiasakan diri bangun pagi, kemudian mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama teman-teman.

Pengalaman yang saya dapatkan itu masih teringat dengan jelas. Bahkan, dulu yang namanya adzan itu harus ada acara rebutan dengan para senior. Yah, beruntung, dulu sempat dikasih jadwal adzan. hehehe.

Untuk saat ini, tidak hanya saya saja yang merasakan hal ini. Tetapi kebanyakan orang yang saya temui yang bercerita tentang masa kecilnya pun merasakan hal yang sama. Mereka pun ingin merasakan kembali hangatnya Islam seperti dulu. Saat saya pergi merantau suasana seperti dulu masih saya rasakan. Hanya saja ada yang berbeda, di perantauan pengajian ibu-ibu di lakukan di siang hari, kalau di kampung saya di lakukan malam hari, itu pun dulu.

Okay, kita bahas lagi Islam saat ini.
Ada apa dengan Islam? Tidak ada apa-apa kok. Islam baik-baik saja. Masa sih?
Pernah sesekali ada teman yang menanyakan kepada diri saya, "Kamu Islamnya apa bro?'' adalah pertanyaan yang membuat bingung sejenak. Lho, emang Islam ada berapa? Memangnya Islam ada macamnya? Hmm, sungguh menggelikan sekali. Seharusnya Islam itu satu. Allah Tuhannya, Nabi Muhammad Rasulnya. Titik.

Ada juga teman saya yang dulu, pernah mengajak debat tentang Islam. Ah, saya tak tertarik untuk berdebat, karena ilmu saya tak seberapa. Tepatnya, tak pantas saya mengeluarkan pendapat-pendapat saya tanpa ilmu. Saya hanya berkata, "Sudahlah, kita saling menghormati cara kita beribadah pada Allah, yang penting Laa illaha illallah, muhammadurrasullah.. Kita bersaudara, cuma kita ditakdirkan tidak sama. Tujuan kita di dunia untuk beribadah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat. Pun, untuk mencapai kesana kita memiliki cara yang berbeda. Istilahnya kalau kita mau pulang kampung, saya menggunakan kereta, anda menggunakan bis, atau sebaliknya''. 
Dan sampai saat ini pun, saya dan teman saya masih berteman baik, tak ada yang namanya musuhan. Hehehe.


Dilanjut besok lagi ya, keep istiqamah.
Salam.

Menunggu

Siapa yang tak pernah merasakan menunggu?
Apa yang kamu rasakan? Bosan?

Baiklah, ada  beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang menunggu. Tentang masalah jodoh. Banyak sekali dari kita yang selama ini menggunakan istilah menunggu. Dan ini terjadi di pihak wanita. Entah apa yang mereka tunggu, padahal kita di anjurkan untuk menjemput jodoh. Menjemput bukan berarti harus agresif, bukan berarti harus tebar pesona ke lawan jenis. Menjemput itu mendekatkan diri, mendekatkan diri dengan Allah.

Kok bisa?
Bisa banget, mau minta ke siapa lagi kalau bukan ke Allah, yang Maha Memiliki. Mau minta yang model atau tipe yang kek gimana juga bakal dikasih. Tapi ingat, apa yang di kasihkan, tentunya sesuai dengan kemapuan kita untuk merawat, menjaga, dan tidak membuat kita lalai saat mencintai.

JODOH
Sebuah kata yang melahirkan kalimat-kalimat lain. Dimulai dari, "Kapan kamu nikah?" yang terkadang membuat sebagian besar orang yang belum mempunyai pasangan speechless. Jawaban dari mereka hanya "Secepatnya, doakan saja", sebenarnya dalam hati itu rasanya bikin mood nge-down. Entahlah mengapa orang-orang di sekitarnya asyik mengejeknya.

Balik lagi ke masalah menunggu.
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku ingin memperbaiki diriku, untuk seseorang yang siap menikahiku." Keren sih. Tapi, saat wanita menunggu seorang pria, apakah yang ditunggu tahu jika wanita itu menunggu sang pria? Menunggu itu apa sih? Berharap pria itu datang tiba-tiba? Kebanyakan dari wanita selalu berharap kaum pria mampu mengerti dan memahami mereka. Plis, pria hanya bisa menebak dan mengira-ngira. Katakanlah. Katakanlah saja.

Mungkin ada yang akan menjawab "Aku akan mencintai dalam diam dan tetap menunggu. Aku yakin dia akan datang. Jika dia tidak datang, berarti dia bukan jodohku". Okay, pernyataan ini untuk kaum mereka yang sudah dalam level tinggi yakinnya ke Allah. Hehehe.

Disambung besok lagi, keep istiqamah.

Selasa, 25 Februari 2014

Aku Cinta Indonesia

Saat sebagian orang dinegeri ini menggemari bangsa lain,
Sebagian lainnya begitu sangat peduli dengan negeri ini,
Mengagumi bangsa lain itu hak masing-masing individu,
Tapi mencintai negeri sendiri adalah kewajiban setiap warga negara.

Saat krisi kepercayaan pada pemuka negeri ini kian luntur,
Disitu pula bibit baru datangdengan niat yang tulus,
Menganggap semua hanya titipan.

Bukan untuk memperkaya diri sendiri,
Tetapi untuk kesejahteraan semua rakyat.

Mereka generasi hebat pengukir sejarah.
Bukan penghargaan yang menjadi tujuan utama.
Bukan pula pujian ataupun pengikut.

Tapi sesuai panggilan jiwa.
Karena menjadi seorang pemimpin,
Adalah pelayan untuk yang ia pimpin.
Untukmu, Indonesiaku.

Sabtu, 18 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 3)

Menjadi pribadi yang bermanfaat, adalah harapan semua orang. Tapi tidak semua orang mengerti dan memahami, menjadi pribadi yang manfaat, tentunya untuk seluruh umat. Kebanyakan menganggap bahwa caranya adalah yang terbaik. Meninggikan ego, golongan, kesenangan semu pribadi, dan penilaian orang.

Belajar dari masalalu, lihat bagaimana leluhur kita berjuang, merebut kemerdekaan dan menyebarkan agama Islam. Bicara tentang Islam, Islam adalah agama yang lurus. Agama yang indah, yang bahkan semua orang akan damai, jika memeluknya. Mati dalam keadaan Islam itu lebih mulia, percayalah, InsyaAllah.

Tanyakan nurani, pernah terbesit dipikiran anda tentang kehidupan? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita terlahir sebagai seorang muslim? Dan, mengapa kita terlahir di negeri ini, Indonesia? hmm, tarik nafas, hembuskan perlahan. Pejamkan mata anda, lalu jawab pertanyaan tadi.

Mohon maaf, apabila ada tulisan yang membuat anda tak berkenan. Terima kasih, mau menyempatkan untuk membaca blog ini.

EKO P.G.

Rabu, 15 Januari 2014

Entah tentang apa (bagian 2)

Yang ada hanyalah rasa saling tak mempercayai,dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan yang paling parah adalah saat pemilihan. Entah itu pemilihan antar RT,RW,KEPALA DESA hingga PRESIDEN, suara itu bisa di beli dengan uang. Yang membuat lebih tragis lagi, yaitu beberapa golongan memilih untuk golput. Entah apa yang sedang mereka pikirkan? Apakah mereka tak mempercayai lagi tentang pemimpin sekarang? Apa menurut mereka memang tak ada yang pantas, untuk menjadi seorang pemimpin? 

Sejatinya, sebagai warga negara yang baik. Kita bisa bersikap lebih matang, dalam memfilter permasalahan yang ada. Jangan cuma ikut-ikutan orang kebanyakan. Kita punya hak untuk menyuarakan suara kita. Jangan pernah untuk memilih golput karena ego pribadi. Jangan biarkan oknum membeli suara mereka yang tak kenal calonnya. Jika kita mengaku sebagai orang yang baik, gunakan nurani kita untuk memilih. Pilih yang menurut kita itu baik, dan pantas untuk memimpin. Kita berusaha dan berdo'a, nanti biar Allah yang mengaturnya. 

Jika memang kita belum bisa menjadi warga negara yang baik, apa salahnya jika kita mematuhi aturan pemerintah. Pemerintah itu mereka yang dipilih Allah untuk mewakili kita, untuk mengurusi negeri. Nah, kita sebaiknya tidak perlu ngeyel. Buktinya saja kita belum bisa bahkan tidak sanggup membalas, apa yang diberikan negeri ini, pada diri kita. Jadilah warga negara yang tahu diri.

Jika memang kita tidak puas dengan apa yang terjadi, jangan salahkan pemimpin atau pemerintah. Salahkan diri, mengapa kita memilih golput. Sejatinya, golput itu kita tidak memilih pemimpin yang baik, tapi mempersilahkan pemimipin yang dzalim untuk dipilih. 

bersambung..

Selasa, 14 Januari 2014

Entah tentang apa.

Senja yang berwarna keemasan menghiasi langit Jakarta. Saat itu aku merasakan betapa senangnya hati, bisa menikmati sore hari. Ada kerinduan yang mendalam, saat teringat orang-orang yang dicintai. Sambil menghela nafas, aku menaruh sepatu ditempatnya. Lalu membersihkan kakiku yang seharian berjasa menopangku untuk bekerja. Aku seorang karyawan swasta, lulusan SMK. Beribu mimpi yang aku miliki, salah satunya aku ingin menjadi seorang sarjana.

Menjadi seorang karyawan swasta sekaligus mahasiswa, memang tidak mudah. Tapi setidaknya aku sudah berusaha tidak merepotkan orang tua, untuk menggapai mimpiku. Ingin menjadi salah satu anak bangsa yang berprestasi. Salah satu mimpiku menjadi orang yang berpengaruh, bagi kejayaan Islam dan kemajuan negeri ini. Memang itu tidak mudah, tapi aku punya Allah.

Aku sangat bangga terlahir sebagai seorang muslim. Aku sangat bangga terlahir di negeri ini. Negeri yang menurutku, memberikan kebebasan untuk belajar tentang Islam. Islam tentang kehidupan di dunia dan akhirat. Banyak yang diberikan oleh negeri ini, untukku dan 200 juta lebih penduduk negeri ini. Tapi, sebagian besar penduduk tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bahkan, untuk meneruskan perjuanganpun enggan. Kebanyakan dari mereka kurang bersyukur. Terlihat dari beberapa kasus pelajar, yang bahkan mereka menuntut ilmu dengan tidak sungguh-sungguh. Banyak pemimpin yang terjerat kasus korupsi. Rakyat yang seharusnya mendapatkan haknya, bahkan tak pernah mencicipi arti kemerdekaan.

Yang ada hanyalah rasa tak saling mempercayai, dari rakyat oleh rakyat oleh rakyat.  bersambung..

Minggu, 15 Desember 2013

10 resep jadi orang tua yang baik.

REPUBLIKA.CO.ID, Dr Frieda Mangunsong MEd Psi, ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI),  memberikan 10 resep bagaimana agar menjadi orangtua yang baik dan efektif dalam mendidik anak-anak balita mereka. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Kenali anak Anda
"Anak menyerap semua yang diperlukan oleh orangtuanya," tutur Frieda. Jadi, kalau orangtuanya di rumah banyak senyum anak akan mengikuti kebiasaan itu hingga murah senyum.

Jangan anggap enteng
Terapkan positive parenting, yaitu menghargai perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan menghukum sesedikit mungkin.

Libatkan dalam kegiatan keluarga
"Anak seperti halnya orang dewasa, akan merasa senang bila dia merasa berguna," tukas peraih master di bidang pendidikan Luar Biasa dari The National College of Education di Evanston, AS itu.

Memanfaatkan setiap kesempatan
Bepergian bersama anak dalam kendaraan menjadi waktu yang amat berharga. Selam perjalanan gunakan untuk mengobrol dengan anak.

Sediakan waktu khusus
Bagi ibu-ibu yang bekerja sampai harus meninggalkan rumah dalam waktu lama, mungkin agak bingung bagaimana memberikan waktunya untuk si kecil. Menurut Frieda, yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya

Tegakkan disiplin
Selain positive parenting anak juga perlu belajar ada perilaku yang benar-benar tidak bisa diterima sehingga perlu ada penegakkan disiplin. Namun, ibu juga harus konsisten menegakkan disipllin. Jangan sampai itu dilakukan berdasarkan mood ibu.

Jadi contoh bagi anak
Anak lahir tanpa tahu apa-apa bukan? Nah, mereka itu peniru ulung. Apa yagn dia lakukan adalah imitasi apa yang dilakukan orangtuanya. Bukan dari apa yang dia dengar melainkan apa yang dia amati.

Ungkapkan kasih sayang anda
Setiap orangtua tentu sayang pada anak-anaknya. Namun, jangan pelit ekspresi sayang. Jangan pula menganggap anak tahu, anda sayang pada mereka. Untuk itu ungkapan kasih sayang anda lewat kata-kata, sentuhan berupa belaian, pelukan dan ciuman, lalu tulisan dalam surat pendek yang isinya "Mama sayang kamu"

Komunikasi yang tepat
Mungkin anda menganggap hal berikut sepele. Padahal, besar pengaruhnya. Yakni, jangan meneriakkan perintah atau aturan dari ruang lailn. Itu tidak efektif. Aturan atau perintah harus sespesifik mungkin.

Senin, 07 Oktober 2013

Jakarta, 07 Oktober 2013

jika berbicara tentang kematian.. 
yang terbayang adalah rasa sakit..
mungkin melebihi rasa pegal di punggung yg selama hampir 4 thn bkrja dgn posisi badan membungkuk..
bahkan, ada yg mengatakan..
saat nyawa dicabut sampai tenggorokan..
ibarat seperti..
pohon salak yg dimasukkan ke mulut lalu ditarik keluar..
secara paksa..

dan saat terakhir itu..
saya tak tahu..
siapa yg benar2 merasa kehilangan..
bahkan mengenang perjalanan hidup saya melalui sebuah catatan kecil..
sebuah tulisan tangan..

Eko P.G.

Jumat, 07 Juni 2013

Merindukanmu (Ayah).

Alhamdulillah..
Setiap hamba yang ada di muka bumi ini pasti pernah berfikir, kita semua milikNya dan hanya kepadaNyalah kita kembali. Aku tak pernah tahu apa rencana Allah, yang bisa ku lakukan hanyalah memberikan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin agar menjadi hambaNya yang terbaik. Aamiin. InsyaAllah.
Aku tahu, bahwa semua orang mempunyai kisahnya masing-masing, begitu juga dengan diriku. Aku pernah merasakan kesedihan yang mendalam saat Aku kehilangan Ayahku. Beliau adalah Ayah yang terbaik di dunia. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Ayah disini (dihatiku).

Meski hanya 7 tahun, Aku begitu bangga mempunyai Ayah seperti beliau. Sejak kecil Aku selalu diajaknya pergi, meski hanya memperbaiki mobil temannya yang rusak. Ayahku adalah seorang montir dan juga seorang wiraswasta. Alhamdulillah, keluaraga kami termasuk keluarga yang bisa dibilang cukup. Ayahku pernah mendapatkan penghargaan peringkat ke-1 NATIONAL TECHNICIAN CONTEST se-Jawa Barat tahun 1996, meski begitu Ayahku mempunyai sifat yang rendah hati, sehingga banyak orang yang kagum dengan beliau.

Aku yang saat itu masih kecil belum begitu memahami tentang Ayahku. yang Aku tahu Ayahku bekerja memperbaiki mobil, selalu ada disaat Aku membutuhkannya, selalu ada untuk keluarga, selalu mengajkku jalan-jalan di akhir pekan, mengajariku mengerjakan PR dari sekolah, dll. Ayahku adalah seorang figur Ayah yang terbaik yang pernah ku temui. Dia adalah suami yang baik bagi Ibuku. Aku tak pernah melihat Ayah memarahi Ibu, apalagi memukulinya. Dia adalah Ayah yang selalu membuat Ibu dan Aku tersenyum.

Saat aku mempunyai adik, keluarga kami bertambah bahagia, karena bertambahnya anggota keluaraga baru.  Tapi adikku tak bisa merasakan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan dari seorang Ayah. Ayahku meninggal saat adikku berumur 2 tahun, sedang aku berumur 7 tahun. Masih ingat dengan jelas saat itu, dimana semua keluarga besarku merasa kehilangan, apalagi Ibuku. Waktu itu aku tak begitu memahami apa itu arti kematian. Saat aku duduk terdiam melihat semua keadaan, Ibu mengajakku ke kamar, sambil menangis Ibu berkata ''nak, Bapak udah ngga ada, Bapak udah meninggal.'' lalu Ibu pun berlalu meninggalkanku dikamar. Aku yang hanya bisa terdiam, sampai akupun menangis sedih, dalam benakku ada beberapa pertanyaan yang membuat aku bingung, '' mengapa Ibu menangis sesedih itu? mengapa Ayah meninggal? apakah yang disebut meninggal itu kita tak bisa bertemu dengannya lagi? seperti tetanggaku itu, yang saat dinyatakan meninggal, aku tak pernah melihatnya lagi?

Di minggu pagi itu, banyak orang yang bertakziah ke rumah nenekku, karena pada saat itu kami tinggal di rumah nenekku. Aku hanya bisa berdiam diri, yang bisa ku lakukan adalah berdoa ''Allahumma firli wali wali dayya warhamhuma kamma robbayani shoghiro''. itu adalah doa yang diajarkan oleh kedua orang tuaku setelah selesai shalat dan sebelum tidur.



Bersambung..

Tuhan, Aku Lelah, Aku Ingin Pulang.

Tuhan, betapa banyak nikmatMu yang Kau berikan. betapa bodohnya aku yang selalu mengeluh pemberianmu. Kau menitipkan kepadaku orang-orang yang menyayangiku,, tapi betapa bodohnya aku yang terkadang mengabaikan mereka. Aku selalu membandingkan kelemahanku dengan kelebihan orang lain. Aku selalu berburuk sangka kepada hamba-hambaMu. Aku selalu iri dengan mereka yang telah Kau titipkan sesuatu yang memang layak untuk mereka.

Tuhan, aku memang bodoh. ku akui aku selalu sombong didepan hamba-hambaMu, didepan mereka yang bahkan lebih berilmu daripada aku. aku memang miskin, tetapi aku selalu ingin terlihat kaya didepan mereka.

Tuhan, Aku Lelah, Aku Ingin Pulang. tapi apa yang aku punya? apa yang akan ku bawa nanti untuk bekal di akhirat? apa yang akan aku jawab saat Kau menanyakan tentang hidupku di dunia ini? apa sesuatu yang ku tinggalkan pada ahli warisku sepeninggalku?

Tuhan, jadikanlah dunia ditanganku, dan jadikanlah akhirat dihatiku. ( do'a abu bakar)
Tuhan, aku memohon kebaikan dimanapun aku berpijak, dan aku meminta perlindunganmu dari segala keburukan dimanapun aku berpijak.

Rabu, 02 Mei 2012

TAHUKAH ANDA? (sedikit pengetahuan tentang islam)

assalamu'alaikum, kali ini ane akan ngebahas tentang pengetahuan tentang islam

1. Kenapa menyembelih harus membaca basmallah?
Sebuah tim yang terdiri dari para peneliti senior dan profesor universitas di negri Suriah menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam hal perkembangbiakan mikroba antara daging yang dibacakan takbir ketika disembelih dengan daging yang tidak dibacakan. Penanggung jawab humas dari penulisan ini, Dr Khalid Halawah, berkata bahwa serat daging yang disembelih tanpa bismillah dan takbir selama tes uji penuh dengan kuman dan darah yang tertahan dalam daging, sementara daging yang disembelih dengan bismillah dan takbir benar2 bebas dari bakteri dan steril tidak mengandung darah yang tersisa dan tertahan, Subhaanallahil 'azhiim.

2. Alasan cuci tangan dengan tanah saat dijilat Anjing
Nabi bersabda " Apabila anjing minum (dengan ujung lidahnya) dalam wadah milik seseorang diantara kalian, hendaklah ia membuang airnya kemudian membasuh wadah itu tujuh kali."
Prof Thobarah dalam kitab Ruhu ad-Diin al-Islami menyebutkan bahwa anjing menularkan banyak penyakit kepada manusia. Karena sesungguhnya anjing terkena cacing pita yang bisa menular kepada manusia dan menyebabkan penyakit kronis yang terkadang sampai membahayakan kehidupan. Semua jenis anjing tidak ada yang bebas dari jenis cacing pita ini.

3. Asal mula not nada
Tahukah anda, sebagaimana diakui oleh sarjana barat maupun timur bahwa orang arablah yang memperkenalkan not do-re-mi-fa-sol-la-si. Bunyi-bunyi itu diambil dari bunyi huruf-huruf arab : dal, ra, mim, fa, shad, lam, dan sin. Adalah Hasan ibn Nafi' yang lebih dikenal dengan Ziryab yang mula-mula menemukannya. Ia seorang maula dari Irak, murid Ishaq al-Maushuli, seorang musisi dan biduan kenamaan di istana Harun al-Rasyid. Ziryab tiba di Cordova pada tahun pertama pemerintahan Abd al-Rahman Il-Ausath. Kepiawaannya dalam seni musik dan tarik suara sungguh membekas dan berpengaruh hingga sekarang. Bahkan ia pula dikenal sebagai peletak dasar musik Spanyol modern

4. Sifat Malaikat Mungkar dan Nakir
Diriwayatkan oleh Ma'mar bin Amr bin Dinar dari Sa'id bin Ibrahim, dari Atha' bin Yasar, bahwa Nabi bersabda pada Umar bin Khattab, "tiba-tiba datang malaikat munkar dan nakir yang suaranya menggelegar seperti halilintar, yang sorot matanya seperti kilat menyambar, yang rambutnya panjang sgampai menyentuh tanah, dan tangannya memegang palu sangat berat sehingga tidak sanggup dibawa oleh penduduk bumi." riwayat Tirmidzi bahkan menyebut bahwa munkar dan nakir berkulit hitam kebiru-biruan

5. Orang pertama masuk surga dan neraka
Sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Bakar bin Abu Syaikah dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa Nabi bersabda, 
" Tiga orang yang pertama masuk surga, yaitu orang yang mati syahid, orang lemah yang sudah berkeluarga dan dapat menjaga kehormatannya, dan seorang budak yang mengabdi dengan baik kepada Tuhannya serta memenuhi hak-hak tuannya. Adapun tiga orang yang pertama masuk neraka adalah seorang pemimpin yang zhalim, orang kaya harta namun tidak memenuhi kewajibannya, dan orang miskin yang sombong."

6. Kenapa lafal Tahlil dimulai dengan kata negatif
(Nafyu)?
Kenapa lafal tahlil ( Laa ilaaha illallah) tidak langsung menggunakan kalimat itsbat atau afirmatif, misalnya : Allahu ilaahun (Allah adalah Tuhan)?. Jawabannya, karena lafal Laa ilaaha illallah itu mediadakan dulu (nafyu), baru ada keputusan (itsbat).
Alasannya : karena kalau seseorang dibiarkan memikirkan Tuhan tanpa agama, maka tuhannya akan jatuh diluar Allah SWT. Misalnya menuhankan lautan, api, makhluk halus, angin, dan sebagainya. Biasanya yang disembah adalah gejala alam yang telah dianggap menakutkan atau dianggap menghidupi.

Kita boleh berteman dengan siapapun, TAPI JANGAN SALAH PILIH SAHABAT





Spoiler for TEMAN



Kita butuh teman,

TEMAN, ada yang hanya sekedar TEMAN, boleh jadi kenalan satu sekolah almamater, teman hobi, teman partai, teman bisnis
Itu hanya teman biasa sebetulnya

1. ADA TEMAN yang ada maunya,
Spoiler for sukses

Lagi sukses, banyak yang mendekat, seperti manisan banyak sekali datang semut


atau memang dia lagi perlu, atau lagi butuh kita, dia berteman KARENA ADA MAUNYA, tapi takkala kita susah, atau dia lagi ga butuh. IA AKAN MENINGGALKAN KITA

2. ADA TEMAN KHIANAT
Spoiler for teman khianat

INI teman yang menyakitkan, baik didepan mata kita, memuji kita, seakan dia selalu untuk kita, SEBENARNYA DIA TIDAK DEMIKIAN.
digambarkan dalam Al-qur'an " Kalau bicara menyenangkan kamu, seakan bicaranya untuk kepentingan kamu, SEBENARNYA HATINYA SANGAT BENCI DENGAN kamu



3. INILAH KERINDUAN KITA TEMAN YANG LUAR BIASA

Spoiler for teman sejati


SIAPA ITU?
didepan kita baik, dibelakang kita baik. bahkan dalam DO'ANYA dia selalu menyertakan kita, "SELAMATKAN HAMBA, SELAMATKAN TEMAN HAMBA". ia bawa kita dalam do'anya, ia memperhatikan kita dengan tulus, kadang menasehati kita, menengok kita, memberi hadiah kepada kita. ALLAHU AKBAR.
lahir bathin dia sayang sama kita
inilah teman sejati, inilah teman luar biasa, inilah teman dunia akhirat.
KARENA ITU JANGAN SALAH MILIH TEMAN, CARI SAHABAT TULUS LAHIR BATHINNYA

Ketika Tuhan Menciptakan Wanita


Ketika tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
"mengapa begitu lama menciptakan wanita, tuhan?"
tuhan menjawab,
"sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?" lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".

Malaikat menjawab dan takjub,
"hanya dengan dua tangan? Tidak mungkin!
Tuhan menjawab,
"tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari".

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
"tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?"
tuhan menjawab,
"itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata."
"untuk apa?", tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan,
"air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Quote:
"Cintanya tak bersyarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharganya dia..."

Selasa, 01 Mei 2012

Rindu muhammadku

Peluh bercucuran di dahi dua anak kecil kakak beradik. Mereka sedang bekerja menimba air ditengah terik matahari yang panas menyengat, semenjak ayahnya meninggal seminggu yang lalu, mereka rela membanting tulang bekerja kepada seorang Yahudi yang kaya raya tapi kikir dan kejam, demi membantu ibunya. Mereka terlahir ditengah-tengah kondisi keluarga yang amat miskin. Keduanya berwajah tampan dengan rambutnya yang ikal. Sang adik kondisi tubuhnya lebih lemah dan sakit-sakitan. Wajahnya yang cekung tampak memerah oleh panasnya udara padang pasir di siang dibawah panas terik.

Ubaid sang kakak berhenti menimba dan berkata pada adiknya, ”Zaid, beristirahatlah sejenak, biar aku yang melakukan sendiri.”

Zaid tersenyum di antara wajahnya yang lelah. Dia menggelengkan kepala. ” Nggak ah nanti Tuan kita marah-marah lagi seperti kemarin.”

Ubaid berusaha membujuk adiknya, ”Tuan kita sedang pergi kok. Lagipula kamu kan sudah berkerja keras dari pagi tadi. Ayo beristirahatlah, pekerjaan ini sebentar lagi selesai.”

Akhirnya Zaid mau beristirahat. Dia berteduh dibawah sebatang pohon kurma. Tubuhnya memang selalu sakit-sakitan sejak ia lahir. Untung Ubaid adalah kakak yang baik dan sayang kepadanya. Angin berhembus pelan dan Zaid yang kelelahan itu pun tertidur tanpa terasa.

Tiba-tiba datanglah seorang lelaki gemuk menaiki keledai yang kuat. Namanya Raban, dia seorang Yahudi yang kaya raya. Dialah tuan yang memperkejakan Ubaid dan Zaid. Sifatnya kikir dan jahat, begitu melihat Zaid sedang tertidur, ia langsung naik pitam. Dijewernya telinga Zaid kuat-kuat. ” Jadi kerjamu hanya bermalas-malsan dan tidur saja seharian, hari ini kamu tidak akan dapat upah !”

Zaid kesakitan, melihat pemandangan tersebut Ubaid segera berlari mendekat. ”Jangan sakiti adikku Tuan Raban yang baik,” katanya menghiba

”Dia pemalas, dan pantas aku pukul, kalau begini terus bisa bangkrut aku !” hardik si Raban.

”Kalau Tuan mau memukul, pukullah saya sebagai gantinya.” jawab Ubaid. Tiba-tiba melayanglah tamparan keras di pipi Ubaid. Kemudian Raban mengeluarkan uang dan melemparkan ke tanah. ”Enyahlah kau pemalas !” Mereka memungut uang tersebut dan bergegas pulang.

Zaid terisak-isak. Ia sangat menyesal karena sampai tertidur. Ia kasihan melihat Ubaid, tapi ia lebih menyesal lagi, karena uang yang dibawanya pulang untuk ibunya sangat sedikit. Ah.. andai Ayah mereka belum meninggal, kehidupan mereka tidak akan sesulit ini. Namun mereka masih merasa bangga, karena mereka mempunyai ibu yang sangat bijaksana. Betapapun sedih hatinya melihat nasib anak-anaknya, ia selalu tersenyum dan selalu membuat mereka bahagia, dan tidak bosan-bosannya senantiasa mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Setiap malam tiba mereka merasakan suatu kesepian yang panjang, mereka merasa malam-malam berikutnya pastilah akan berlalu seperti ini terus.

Namun ternyata Allah tidak berlama-lama membiarkan mereka dalam kesedihan. Karena pada suatu malam datanglah tamu yang ternyata Paman Atib, adik kandung ibu mereka. Paman Atib itu seorang pemuda yangg gagah dan terpelajar. Dia menyempatkan singgah untuk menengok kakak dan para keponakannya.

Kedatangan pamannya membawa kebahgiaan tersendiri, persis seperti cahaya bulan yang masuk dari sela-sela jendela butut rumah mereka. Selama beberapa hari mereka tidak perlu bekerja terlalu berat, karena Paman Atib bekerja membantu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Yang membahagiakan mereka berdua, adalah dikala setelah sholat Isya. Karena Paman Atib selalu bercerita tentang Rasulullah. Paman Atib memang pernah mengunjungi Madinah dan beberapa kali bertemu Nabi Muhammad Saw. Ubaid Zaid sangat bahagia sekali jika Pamannya bercerita mengenai Rasulullah.

Saat larut malam ketika semua mahluk terlelap, Zaid kecil terbangun. Sayup-sayup terdengar suara Paman Atib sedang melaksanakan sholat tahajud. Perlahan Zaidpun bangkit dan pergi ke sumur. Dibasuhnya tubuh yang kurus dengan air wudlu. ”Subhanallah,” ucapnya sambil mengagumi langit malam yang gemerlap. Teringat ia akan syair musafir yang pernah lewat hendak menuju Madinah, yang didendangkan dengan penuh rasa cinta.

Yaa... Muhammad...
Ini aku musafir yang terlunta-lunta...
Berjalan jauh arungi batu-batu tandus.
Tertatih-tatih menuju tempatmu berdo’a.

Lihatlah kakiku melepuh.
Rasanya sakit, Yaa...Muhammad...
Kau lihat bajuku koyak dan keringatku kering.
Betapa aku menderita, Ya... Muhammad...

Kuketuk pintu rumahmu dengan rasa malu
Kutakut aku terlalu hina untukmu
Bukalah pintumu untukku Yaa.. Muhammad...
Engkaulah sahabat dan Ayah orang-orang yang menderita.

Bukakan pintu dan kutatap wajahmu, sambil melepas tangis rindu..
Tersenyumlah padaku dan katakan ”Wahai hamba Allah...
Ini adalah rumah kasih sayangmu... Selamat datang dalam genggaman Persaudaraan Iman dan Cinta.

Perlahan Zaid berdiri disamping Paman Atid dan kemudian melakukan sholat Tahajud. Selesai sholat mereka berdua duduk menghadap jendela sambil menikmati cahaya bulan yang mempesona.

”Paman..” panggil Zaid lirih.
Paman Atib menoleh di elusnya punggung keponakkannya itu. ”Ada apa Zaid ?” tanyanya sambil tersenyum.

”Benarkah Paman besok akan pergi ?” tanya Zaid sambil tetap menatap bulan. Paman Atib terdiam sejenak. ” Ya... Zaid, Paman harus pergi...” jawabnya kemudian.
”Pergi kemana ?” tanya Zaid.
”Ke Madinah..” jawab Paman Atib.

Zaid menoleh dan menatap wajah pamannya dalam-dalam. ” Paman akan bertemu Rasulullah?” tanyanya perlahan.
Paman Atib tersenyum dan mengangguk. ”Insya ALLAH...” jawabnya.
”Apakah Rasulullah seorang yang kaya raya, Paman ?” tanya Zaid.

”Rasulullah adalah seorang Nabi, bukan seorang raja, Zaid,” jawab Paman Atib.
”Beliau tidur diatas tikar yang serupa dengan yang kita pakai. Beliau memakai pakaian seperti yang kita pakai. Beliau juga memakan makanan seperti yang kita makan, yaitu beberapa butir kurma dan segelas air. Sesekali beliau minum susu kambing itupun hadiah dari para tetangganya”.

Zaid termenung. Tadinya dia berharap bahwa Nabi akan lebih kaya daripada Raban. Tetapi kini dia tercenung. Karena kekayaan Nabi tidak lebih dari keluarganya sendiri, bagaimana mungkin seorang yang tidak kaya bisa ditaati semua orang ?, bukanlah Raban yang kaya itu tinggal mengatakan sesuatu maka semua keinginannya akan terkabul.

”Kalau Nabi bukan orang kaya, bagaimana Beliau bisa membantu kita, rakyat yang miskin ini, Paman ?” tanya Zaid keheranan.

Paman Atib tersenyum. ”Nabi kita punya kasih sayang, wahai Zaid. Dengan kasih sayang itulah Nabi menolong semua umatnya,” kata Paman Atib dengan lembut. ” Bila beliau punya sedikit kelebihan uang, akan dibagi-bagikannya kepada para fakir miskin. Beliau juga mengajarkan pada orang kaya, agar senantiasa membantu saudara-saudara mereka yang kesusahan. Kasih sayang Nabi tidak terbatas, wahai Zaid. Kasih sayang Nabi meliputi seluruh alam.”

Zaid tercenung. ”Subhanallah...” ucapnya lirih.
”Bila seseorang memberi kasih sayang, ia akan di beri kasih sayang pula oleh Allah dan orang-orang lain,” kata paman Atib.


Zaid termenung lagi. Walaupun Raban kaya, tetapi ia tidak disayangi orang karena sifatnya yang kejam. Kekayaan Raban tidak ada artinya dibandingkan kekayaan kasih sayang Nabi. ”Paman..., kalau kasih sayang Nabi seluas alam ini, berarti Nabi juga menyayangi anak-anak ?” tanya Zaid penuh harap.

Paman Atib meraih Zaid dan mendudukkannya di pangkuan. ” Bila Rasulullah bertemu anak-anak, Beliau selalu menyapa mereka dan mengajaknya tertawa,” kata Paman Atib. ”Beliau sering mengajak mereka berlomba lari dan memarahi orang dewasa yang berlaku jahat kepada anak-anak.”

Tanpa terasa air mata Zaid menggenang. ”Benarkah didunia ini ada orang sebaik itu ?” pikirnya dalam hati. Perlahan timbul rasa rindu di hati Zaid. Lalu Paman Atib berkata lagi, ”Tetapi yang lebih besar dari semua itu adalah pengorbanan Beliau di jalan Allah. Tahukah engkau Zaid, ketika Rasulullah berdakwah seorang diri ke kota Thaif, Beliau malah dilempari batu oleh orang-orang bodoh itu sambil disoraki ?”

Zaid melompat dari pangkuan Atib dan bertanya dengan wajah tegang. ”Dilempari batu ? lalu apa yang terjadi wahai Paman ? Apa yang terjadi ?”

”Tubuh dan kaki beliau terluka, sehingga sepanjang jalan kota Thaif berceceran bercak-bercak darah suci yang mengalir dari luka itu...” jawab Paman Atib dengan murung. Tubuh Zaid terasa lemas, kepalanya tertunduk seraya jatuh berlutut. ”Subhanallah...Subhanallah....” bisiknya tersendat. Mendadak ia mengenggam tangan Paman Atib erat-erat. Kemudian dia mendongakkan kepala dan memandang wajah Paman Atib lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca, namun sorot matanya penuh dengan kemarahan.

” Paman...” ujarnya tersendat-sendat. ”Bersumpahlah dengan nama Allah yang Maha Perkasa, bahwa Paman akan menghunus pedang dan saya akan menyiapkan ketapel. Lalu kita hancurkan kota orang-orang kafir itu sampai Allah memberi kemenangan, atau kita mati syahid.”

Paman Atib membalas tatapan Zaid, sementara kedua tangannya memegang bahu Zaid erat-erat. Paman Atib menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. ”Zaidku...” katanya dengan penuh rasa kasih sayang. ”Rasulullah adalah Suri Tauladan dan panutan setiap Muslim, bukankah begitu ?” Zaid mengangguk perlahan, sementara air matanya makin menggenang sehingga wajah Paman Atibpun terlihat buram olehnya.

”Tahukah engkau wahai Zaidku, apa yang dilakukan Rasulullah setelah menerima perlakuan demikian kejam ? tahukah engkau ?” tanya Paman Atib lagi. Zaid menggeleng disertai air matanya yang mulai mencair dan meleleh dipipinya. ”Apakah Rasulullah akan memohon agar Allah menghukum orang-orang itu ? Padahal setiap do’a Beliau akan dikabulkan Allah. Apakah Rasulullah akan memohon agar kota Thaif dihancurkan ?” tanya Paman Atib bersungguh-sungguh. ”Ternyata tidak wahai Zaid, tidak. Rasulullah malah memohon agar Allah memaafkan mereka semua...” Zaid semakin tersedu-sedu karena terharu. Tak pernah didengarnya ada manusia sebaik dan seagung itu.

Paman Atib memeluk Zaid kecil didekapnya ke dadanya. Ia mengelus punggung Zaid sambil berbisik, ”Dan setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya orang-orang Thaif memeluk Islam. Orang yang dulu melempari Nabi dengan batu, kini telah menjadi saudara kita. Saudara dalam Iman dan cinta. Semua itu berkat cinta dan kesabaran Nabi terhadap sesamanya. Dan kita harus meneladani Beliau. Kamu paham kan Zaidku ?”

Zaid mengangguk dalam tangisnya. Hatinya semakin terjerat rindu dengan manusia seagung itu. ”Paman...” katanya dengan suara serak. ”Ajaklah aku bersamamu. Aku ingin menjaga Rasulullah agar tak ada orang yang dapat mencelakainya lagi.”

”Zaid,” kata Paman Atib lagi. ”Kamu masih kecil dan perjalanan ke Madinah sangat jauh. Lagipula yang harus kau jaga disini adalah ibumu, ingatlah itu.”

Zaid menggeleng-gelengkan kepala. ”Kak Ubaid dapat menjaga ibu disini. Lagipula aku tidak takut perjalanan jauh, wahai Paman. Biar kecil begini tubuhku kuat lho...” Tak ada yang bisa membujuk Zaid untuk tetap tinggal. Kerinduannya untuk bertemu Rasulullah sudah sedemikian besarnya sehingga menyesakkan dada. Ibu Zaid yang bijaksana itupun rela melepaskan kepergian Zaid. Ia melihat sorot mata Zaid begitu kuat untuk bertemu dan menjaga Rasulullah. Karena sang Ibu sadar, meskipun Zaid masih kecil, gunung sekalipun tak akan mampu menghalangi semangatnya.

Akhirnya berangkatlah Zaid bersama Paman Atib ke Madinah. Selama perjalanan Zaid tidak pernah bermalas-malasan. Ia membantu mencari kayu bakar dan membuat makanan. Ia juga membantu memasang tali kekang onta dan menurunkan barang bawaan. Pokoknya ia senang sekali. Siapa yang rajin, ia akan bahagia, begitu selau dikatakan ayahnya sebelum meninggal.

Tak terasa setelah berhari-hari mereka melakukan perjalan berat, sampailah mereka dipinggir kota Madinah. Hati Zaid begitu berbunga-bunga. ”Besok aku akan bertemu Rasulullah,” pikirnya dengan hati berdebar-debar karena senang. Malam itu Zaid tidak bisa tidur. Ia ingin matahari segera terbit. Tetapi semua ia rasakan berputar terlalu lama.

Keesokan harinya mereka memasuki Madinah. Namun suasana Madinah diliputi awan mendung. Dimana-mana terlihat kesedihan. Kaum wanita maupun laki-laki terlihat terisak-isak, dan wajah mereka menampakkan ketermanguan yang menggambarkan seakan-akan ada sesuatu kejadian yang sulit dipercaya.

Bertanyalah Paman Atib kepada mereka ”Wahai saudaraku ada apa gerangan , kenapa seisi Madinah terlihat berduka ?”

”Nabi telah wafat ...”
”Innalillahi wainnailaihi roji’un...”
Dada Zaid tiba-tiba terasa sesak. Seorang Nabi sekaligus ayah mereka, seorang pemimpin sekaligus sahabat mereka telah tiada. Siapa tak kan sedih. Bahkan pelepah-pelepah kurmapun merunduk sementara angin pun tidak bertiup. Seluruh alam benar-benar berduka.

Zaid tak dapat menahan rindu, berita tersebut seakan langsung membuatnya lemas. Tiba-tiba semua perjalanan jauh yang tak terasa itu datang kembali. Tiba-tiba semua penyakit yang diderita dulu kini mencengkeram kembali.

Sore itu Zaid jatuh sakit. Tubuhnya menggigil kedinginan. Paman Atib berjaga semalaman. Akan tetapi menjelang subuh panas badan Zaid turun. Zaid meminta Pamannya membawanya keluar tenda. ”Aku ingin melihat bintang,” katanya lirih. Dibopongnya tubuh Zaid yang terbungkus selimut keluar tenda. Dibawanya Zaid hingga ke sebuah bukit, supaya Zaid dapat memandang bintang sepuasnya.

” Paman...” ucap Zaid lirih. Setelah ayah meninggal, seorang Tabib yang baik hati pernah memeriksa tubuhku yang sakit-sakitan ini. Kata tabib hidupku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Yang tahu hal ini hanya Kak Ubaid. Ibu tidak kami beritahu karena takut Beliau sedih...” ia menghela nafasnya dalam-dalam. ”Selama perjalanan aku berusaha menahan semua sakit agar bisa bertemu Rasulullah, tetapi Allah berkehendak agar kami bertemu ditempat yang lebih indah dari dunia ini. Be... betul kan, Paman ?” Paman Atib mengangguk perlahan sambil mendekap tubuh Zaid.

Sayup-sayup terdengar suara syair musafir,.

Tiada lagi indah bintang-bintang di langit...
Karena bintang yang terindah telah tiada....
Tiada lagi sejuk cahaya bulan...
Karena cahaya tersejuk telah tiada...

Yaa... Muhammad...
Penuh rindu kudatangi kota ini...
Namun Kau biarkan aku sendiri....
Menunggu didunia fana ini...

Yaa... Muhammad...
Kalaupun tak kujumpai Engkau disini
Janganlah Kau palingkan wajah dariku...
Bila kita bertemu suatu saat...

Di akhirat nanti....

Zaid tersenyum. Sorot matanya perlahan-lahan terkatup, dan tertutup selamnya. Ia telah kembali keharibaan Allah, sang Maha Pencipta. ”Innalillahi wainnailahi roji’un, selamat jalan Zaidku. Sampaikan salam Paman buat Rasulullah...” bisik Paman Atib lirih.

Angin malam berhembus perlahan seolah-olah berkata, ”Alangkah berbaghagianya orang-orang beriman. Mereka bersaudara didunia dan bersaudara di akhirat...”

hadith riwayat

''kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik sedangkan dosa adalah tindakan/perbuatan yang menyesakan dada dan engkau sendiri benci jika orang lain mengetahui ( H.R Muslim) 14:50. 20 maret 2012


''sebaik-baik kamu adalah yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, seburuk-buruk kamu adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.'' (HR Tirmidzi) 18:45. 1 mei 2012
 

''barang siapa menyenangi amal kebaikannya dan menyedihkan ( bersedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang mukmin.''(HR al Hakim) 17.30. 1 mei 2012


''yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah yang pal;ing pandai bersyukur pada manusia.'' (HR ath Thabrani) 16.50. 1 mei 2012



Selasa, 27 Maret 2012